Presiden Iran Tegaskan Serangan terhadap Khamenei Sama dengan Deklarasi Perang

Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Press TV)

Presiden Iran Tegaskan Serangan terhadap Khamenei Sama dengan Deklarasi Perang

Willy Haryono • 19 January 2026 06:47

Teheran: Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan verbal antara Teheran dan Washington.

Dikutip dari France 24, Senin, 19 Januari 2026, peringatan itu dinilai sebagai respons atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengatakan bahwa sudah “waktunya mencari kepemimpinan baru di Iran.”

Dalam wawancara dengan Politico, Trump menyebut Khamenei sebagai sosok yang “harus mengurus negaranya dengan benar dan berhenti membunuh rakyatnya.”

Melalui unggahan di platform X pada Minggu, Pezeshkian menegaskan bahwa “serangan terhadap pemimpin besar negara kami sama artinya dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran.”

Di dalam negeri, akses internet di Iran sempat kembali secara terbatas sebelum kembali terputus. Pemantau jaringan Netblocks melaporkan bahwa pemulihan tersebut hanya berlangsung singkat dan sangat dibatasi, sekitar 10 hari setelah pemerintah memberlakukan pemadaman komunikasi yang luas.

Gelombang demonstrasi pecah sejak akhir Desember, dipicu kemarahan publik atas kesulitan ekonomi. Aksi tersebut dengan cepat berkembang menjadi protes nasional yang dipandang sebagai tantangan terbesar terhadap kepemimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Aksi massa kemudian mereda setelah tindakan keras aparat keamanan yang oleh kelompok hak asasi manusia disebut sebagai “pembantaian,” dilakukan di tengah pemadaman internet yang dimulai pada 8 Januari.

Campur Tangan Asing

Pemerintah Iran menyatakan demonstrasi awalnya berlangsung damai sebelum berubah menjadi kerusuhan, serta menuding campur tangan asing, terutama dari Amerika Serikat dan Israel. Trump sebelumnya juga mengancam akan mengambil tindakan militer baru terhadap Teheran jika terjadi pembunuhan terhadap para demonstran.

Di tengah saling serang pernyataan antara pejabat AS dan Iran, otoritas Iran mengklaim situasi di jalanan telah kembali kondusif. Wartawan AFP melaporkan keberadaan aparat keamanan dengan kendaraan lapis baja dan sepeda motor di pusat Teheran.

Sekolah-sekolah kembali dibuka pada Minggu setelah sempat ditutup selama sepekan. Pezeshkian juga mengatakan telah merekomendasikan agar pembatasan internet segera dicabut. Sejumlah pengguna melaporkan akses terbatas ke WhatsApp, sementara panggilan internasional keluar telah kembali berfungsi sejak Selasa dan layanan pesan singkat dipulihkan pada Sabtu.

Kantor berita Fars melaporkan bahwa direktur utama Irancell, operator seluler terbesar kedua di Iran, diberhentikan karena tidak mematuhi keputusan pemerintah terkait penutupan internet.

Di luar negeri, aksi solidaritas terhadap demonstran Iran terus berlangsung di sejumlah kota, termasuk Berlin, London, dan Paris. Meski terjadi pembatasan informasi, laporan pelanggaran HAM tetap mengalir keluar negeri.

Amnesty International menyatakan telah memverifikasi puluhan video dan kesaksian yang menunjukkan tindakan kekerasan aparat terhadap demonstran. Sementara itu, Iran Human Rights menyebut telah mengonfirmasi 3.428 kematian demonstran berdasarkan sumber medis, saksi, dan jaringan internal di Iran, seraya memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Media internasional belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen, dan pemerintah Iran belum merilis data resmi korban tewas. Perkiraan lain menyebut korban jiwa bisa melampaui 5.000 hingga bahkan mencapai 20.000 orang, sementara saluran oposisi di luar negeri, Iran International, mengklaim sedikitnya 12.000 orang tewas selama gelombang protes.

Baca juga:  Pemimpin Tertinggi Iran Salahkan Trump atas Kerusuhan dan Korban Tewas

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)