Bentrokan Warnai Demonstrasi di Strasbourg Prancis, Polisi Gunakan Gas Air Mata

Bentrokan antara polisi dan demonstran terjadi di Strasbourg seiring berlangsungnya aksi protes nasional di Prancis. (Anadolu Agency)

Bentrokan Warnai Demonstrasi di Strasbourg Prancis, Polisi Gunakan Gas Air Mata

Willy Haryono • 18 October 2026 13:36

Strasbourg: Polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran di Strasbourg pada Sabtu, 17 Oktober 2026, ketika bentrokan pecah dalam aksi protes nasional di Prancis yang melibatkan aktivis gerakan Rompi Kuning (Yellow Vests) dan mahasiswa.

Melansir dari Viory, rekaman video memperlihatkan petugas berlari ke arah demonstran sambil menembakkan tabung gas air mata. Para demonstran kemudian melemparkan bom asap ke arah barisan polisi.

Kericuhan terjadi dalam aksi protes nasional yang melibatkan mantan peserta gerakan Rompi Kuning, mahasiswa, petani, aktivis lingkungan, dan anggota serikat pekerja.

Otoritas Prancis melaporkan sekitar 400 penangkapan di seluruh negeri. Di Paris, sebanyak 110.000 orang turun ke jalan. Sementara itu, pejabat setempat di Strasbourg memperkirakan sekitar 15.000 orang mengikuti demonstrasi. Sebanyak 16 orang ditangkap dan 11 lainnya dilaporkan terluka di kota tersebut.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan sekitar 550.000 orang telah mengikuti 110 demonstrasi di seluruh negeri hingga Sabtu malam. Sementara itu, penyelenggara memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

Protes Biaya Hidup dan Pendidikan

Demonstrasi tersebut berlangsung setelah berminggu-minggu aksi yang dipimpin mahasiswa untuk memprotes kekurangan guru, kondisi gedung sekolah yang memburuk, dan pendanaan pendidikan yang dinilai tidak memadai.

Seruan untuk melakukan mobilisasi massal juga mendapat dukungan dari gerakan Rompi Kuning. Gerakan ini muncul pada 2018 sebagai bentuk protes terhadap pajak bahan bakar, sebelum berkembang menjadi aksi menentang kenaikan biaya hidup dan kebijakan ekonomi pemerintah.

Menjelang demonstrasi, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Jumat meminta para peserta tetap tenang serta menghormati orang lain dan properti.

Pada Sabtu, Macron kembali mengecam aksi kekerasan dan menegaskan bahwa para pelaku perusakan akan menghadapi proses hukum.

“Mereka yang melakukan perusakan, menyerang kantor-kantor pemerintah dan tempat usaha, bahkan menjarah balai kota, akan dituntut dan dihukum,” kata Macron. Ia menegaskan bahwa “tidak ada tempat bagi kekerasan di Republik kita.”

Baca juga: Sejumlah Toko dan Mobil Dibakar dalam Aksi Protes di Prancis, 400 Orang Ditangkap

(Willy Haryono)