Ilustrasi, tandan buah segara kelapa sawit. Foto: dok Metrotvnews.com
Produk Turunan Sawit Buka Peluang UMKM Kembangkan Produk Bernilai Tambah
Husen Miftahudin • 24 October 2026 15:49
Jakarta: Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpeluang mengembangkan produk bernilai tambah dengan memanfaatkan minyak kelapa sawit dan berbagai produk turunannya. Bahan baku tersebut dapat diolah menjadi beragam produk, mulai dari makanan dan kerajinan hingga batik serta produk perawatan tubuh.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Helmi Muhansyah mengatakan terdapat sekitar 200 jenis produk turunan minyak sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku utama maupun pendukung untuk pengembangan usaha.
Menurut Helmi, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis nasional yang berperan dalam menggerakkan perekonomian, termasuk melalui keterlibatan UMKM.
"Karena itulah, pelaku UMKM dapat terus berinovasi, memperluas pasar dan menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas," kata Helmi dikutip dari Antara, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Kegiatan yang didukung BPDP tersebut menjadi forum pertemuan insan pers dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan potensi produk turunan kelapa sawit dalam pengembangan usaha lokal.
Helmi menjelaskan, produk turunan sawit mencakup minyak goreng, margarin, krimer, cocoa butter substitute atau bahan pengganti lemak kakao, hingga biodiesel. Berbagai produk tersebut dapat dimanfaatkan dalam industri dan membuka peluang pengembangan usaha bagi UMKM.
"Pemanfaatan bahan berbasis sawit membuka peluang bagi UMKM untuk mengembangkan produk inovatif dengan nilai tambah," ujarnya.
Ia juga menyebut industri kelapa sawit berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Menurut Helmi, komoditas tersebut menyumbang sekitar 9 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia serta berperan dalam pengembangan hilirisasi energi dan penyerapan tenaga kerja.
Produk oleokimia sawit perluas pasar UMKM
Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Markus Susanto mengatakan produk oleokimia berbasis sawit telah dimanfaatkan dalam berbagai produk yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Bahan oleokimia seperti fatty acid atau asam lemak, soap noodle sebagai bahan dasar pembuatan sabun, dan gliserin dapat digunakan dalam pembuatan beragam produk, termasuk sabun, kosmetik, sampo, deterjen, dan produk perawatan tubuh.
Menurut Markus, industri oleokimia Indonesia juga memiliki orientasi ekspor yang kuat. "Saat ini, produk oleokimia hampir 70 persen memenuhi pangsa pasar ekspor dan 30 persen dipakai untuk kebutuhan dalam negeri. Kontribusinya bagi devisa ekspor mencapai 5 miliar sampai 6 miliar dolar per tahun," katanya.
Pemanfaatan bahan baku turunan sawit tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar, termasuk produk perawatan tubuh dan kebersihan.
(Ilustrasi, petani kelapa sawit. Foto: dok MI)
Limbah sawit diolah jadi produk ekonomi sirkular
Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya, Susinggih Wijana, menilai produk samping dan limbah industri kelapa sawit berpotensi dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Menurut dia, pengolahan limbah sawit sejalan dengan konsep ekonomi sirkular (circular economy), yakni pemanfaatan kembali bahan atau sisa produksi agar dapat digunakan untuk menghasilkan produk lain.
Susinggih mencontohkan, UMKM dapat mengolah limbah sawit menjadi bahan baku pakan ternak, mulai dari proses produksi hingga distribusi. Selain itu, pelaku usaha juga dapat memproduksi sabun dalam skala kecil hingga menengah menggunakan bahan turunan sawit.
Pemanfaatan tersebut dapat menjadi alternatif pengembangan usaha sekaligus meningkatkan nilai guna produk samping industri kelapa sawit.