MIND ID Dorong Sinergitas Pemangku Kepentingan untuk Perkuat Hilirisasi

Ilustrasi. Foto: Dok: MIND ID

MIND ID Dorong Sinergitas Pemangku Kepentingan untuk Perkuat Hilirisasi

Gervin Nathaniel Purba • 21 October 2026 20:34

Jakarta: MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia memperkuat hilirisasi dan industrialisasi dalam rangka mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di dalam negeri. Untuk memperkuat hilirisasi dan industrialisasi, diperlukan juga dukungan kebijakan dan sinergitas seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kontribusi industri pertambangan terhadap negara.

“Dengan dukungan kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan, MIND ID berkomitmen terus memperkuat kontribusi bagi negara melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang semakin terintegrasi, penguatan hilirisasi, dan pengembangan industri bernilai tambah,” kata Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin, dalam keterangannya, dikutip dari Antara, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Selama bertahun-tahun, ekspor komoditas seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, emas, dan batu bara memberikan penerimaan bagi negara. Namun, sebagian nilai tambah, lapangan kerja industri, serta penguasaan teknologi masih berkembang di luar negeri.

Hilirisasi, kata Maroef, menjadi langkah strategis untuk mengubah pola tersebut dengan mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di dalam negeri. Sekaligus memperluas manfaat kekayaan alam bagi perekonomian dan masyarakat.
 



Dalam upaya tersebut, MIND ID menjalankan mandat negara untuk mengelola cadangan mineral dan batu bara secara optimal dan berkelanjutan. Peran ini diwujudkan melalui penguatan hilirisasi dan industrialisasi, serta pengembangan industri yang diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam pasar komoditas mineral strategis.

Implementasi strategi tersebut terlihat dari pengembangan sejumlah kawasan industri. Di Kalimantan Barat, misalnya. Ekosistem bauksit, alumina, dan aluminium dikembangkan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri manufaktur nasional.



MIND ID Pangkas Limbah B3 hingga 38 Persen dalam 2 Tahun

Ilustrasi, pengelolaan limbah tambang. Foto: dok MIND ID.



Sementara itu, fasilitas pengolahan tembaga dan logam mulia di Gresik diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri kabel, elektronik, energi, hingga pertahanan. Pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik di Maluku dan Karawang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem industri kendaraan listrik global.

Pengembangan industri tersebut berjalan seiring dengan agenda investasi strategis lintas sektor yang melibatkan Danantara. Program ini mencakup 26 proyek strategis, dengan total investasi sekitar Rp225 triliun dan diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja.

Kembangkan peta jalan industri pertambangan


Sebagai perpanjangan tangan negara, MIND ID mengembangkan peta jalan industri pertambangan. Mulai dari fasilitas alumina, pemurnian tembaga dan logam mulia, serta sel baterai, proyek HPAL nikel, smelter aluminium, dan pengolahan batu bara menjadi metanol/DME.

Hilirisasi yang dijalankan membuka peluang peningkatan nilai tambah melalui pengembangan produk turunan. Pada komoditas bauksit, pengolahan menjadi alumina, aluminium, dan kawat aluminium memiliki pengganda nilai tambah masing-masing 10 kali, 80 kali, dan 90 kali.

Pada nikel, pengganda nilai tambah mencapai 10 kali untuk nickel pig iron dan feronikel, 19 kali untuk baja nirkarat, serta 45 kali untuk baterai kendaraan listrik. Sementara itu, pada tembaga, pengganda nilai tambah mencapai 9,5 kali untuk konsentrat tembaga, 10 kali untuk katoda tembaga, dan 25 kali untuk kawat tembaga.

Potensi peningkatan nilai tambah juga terlihat pada komoditas lainnya. Pada emas, pengganda nilai tambah mencapai sembilan kali untuk lumpur anoda dan 10 kali untuk emas batangan. Pada timah, nilainya mencapai 2,3 kali untuk konsentrat timah, 5,7 kali untuk timah ingot, serta enam kali untuk solder dan bahan kimia timah.



(Gervin Nathaniel Purba)