Kapal Pengangkut 350 Migran Tenggelam di Perairan Djibouti, 109 Orang Tewas

Perjalanan berbahaya para migran di berbagai penjuru dunia kerap berujung tragedi. (Anadolu Agency)

Kapal Pengangkut 350 Migran Tenggelam di Perairan Djibouti, 109 Orang Tewas

Willy Haryono • 11 October 2026 21:01

Djibouti: Sedikitnya 109 migran, termasuk 15 anak-anak, tewas setelah kapal mereka tenggelam di lepas pantai Djibouti, menurut laporan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

IOM mengatakan kapal tersebut mengangkut sekitar 350 orang, dan hingga saat ini puluhan migran lainnya masih dinyatakan hilang.

Mengutip dari BBC, Minggu, 11 Oktober 2026, kapal tersebut berangkat dari Djibouti menuju Yaman, dan tenggelam di dekat kota pelabuhan Obock pada Kamis malam. Sekitar 80 orang berhasil diselamatkan, menurut IOM.

Kepala Misi IOM di Djibouti Alexandre Coissac menyebut tragedi tersebut sebagai “pengingat nyata” mengenai bahaya yang dihadapi para migran ketika mencari kehidupan baru di tempat lain.

“Ini adalah kehilangan nyawa yang sangat besar,” kata Coissac.

“Pikiran kami bersama para penyintas dan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta atau masih belum mendapatkan kabar mengenai kerabat mereka,” lanjutnya.

Dalam pernyataan pada Jumat lalu, IOM mengatakan jenazah yang telah ditemukan terdiri atas 52 pria, 42 perempuan, sembilan anak perempuan, dan enam anak laki-laki.

Pihak berwenang setempat juga tengah mengatur pemakaman bagi para korban. Sementara itu, para penyintas yang seluruhnya merupakan warga negara Ethiopia telah mendapatkan akses terhadap perawatan medis.

Tempuh Rute Berbahaya

Menurut badan PBB tersebut, puluhan ribu migran dari kawasan Tanduk Afrika menempuh perjalanan berbahaya setiap tahun dengan harapan mencapai negara-negara Teluk untuk mendapatkan keamanan dan pekerjaan.

Yaman masih dilanda perang saudara yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Meski konflik tersebut berlangsung dan ketidakstabilan di kawasan semakin meningkat, para migran tetap menyeberangi Selat Bab el-Mandeb menuju Yaman karena didorong kemiskinan, ketidakamanan, dan dampak perubahan iklim yang semakin besar.

Sejak 10 September, IOM melalui Displacement Tracking Matrix mencatat lebih dari 20.000 “pergerakan” migran dari Ethiopia menuju Djibouti.

IOM mengatakan pihaknya memberikan bantuan kepada 64 penyintas di pusat respons mereka di Obock, termasuk layanan kesehatan dan dukungan untuk “memulihkan kontak dengan keluarga mereka."

Badan PBB tersebut bekerja sama erat dengan otoritas setempat untuk membantu para migran sekaligus “mencegah kematian di laut dan di darat”.

Menurut data IOM, lebih dari 900 migran meninggal atau hilang ketika menempuh rute yang sama sepanjang 2025. Jumlah orang yang mencoba melakukan perjalanan tersebut juga meningkat 18 persen.

Pada Maret 2026, sembilan orang tewas dan 45 lainnya hilang setelah insiden serupa.

Baca juga: Lebih dari 600 Migran Tewas atau Hilang di Laut Mediterania Sejak Awal 2026

(Willy Haryono)