Menteri Agama Nasaruddin Umar saat mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu, 10 Oktober 2026. Dokumentasi/ istimewa.
Menag Dorong Pesantren Perkuat Mutu Pendidikan dan Kemandirian
Deny Irwanto • 10 October 2026 22:36
Pasuruan: Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan pengembangan kemandirian masyarakat. Di tengah perubahan zaman, sejumlah pesantren mulai memperluas perannya melalui penguatan ekonomi, kepedulian lingkungan, dan pemanfaatan teknologi digital tanpa meninggalkan tradisi pendidikan yang menjadi ciri khasnya.
Hal tersebut menjadi perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar saat mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu, 10 Oktober 2026. Dalam kunjungan itu, ia mendapat pemaparan mengenai pengembangan pendidikan, usaha produktif, pengelolaan lingkungan, hingga digitalisasi layanan pesantren.
Menurut Nasaruddin, pendidikan pesantren memiliki pendekatan yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kedalaman spiritual. Proses belajar, kata dia, perlu berjalan seiring dengan upaya membersihkan diri dan membangun kesadaran batin.
“Di pondok pesantren, tazkiyah dulu baru ta'lim,” kata Nasaruddin di hadapan para santri dikutip, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Nasaruddin juga berharap penguatan kelembagaan melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren dapat meningkatkan dukungan pemerintah terhadap perkembangan pendidikan dan kemandirian pesantren.
"Melalui Ditjen Pontren ini, kita berharap agar Kemenag terus bisa lebih mengangkat martabat dan memajukan pondok pesantren di Indonesia," jelasnya.
.jpeg)
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu, 10 Oktober 2026. Dokumentasi/ istimewa.
Kemandirian Ekonomi untuk Mendukung Pendidikan
Salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam kunjungan tersebut adalah pengembangan usaha ekonomi di Pondok Pesantren Al Yasini. Pesantren yang berdiri sejak 1940 itu kini mengasuh 4.561 santri dan mengembangkan sejumlah unit usaha untuk mendukung keberlangsungan pendidikan serta kegiatan sosial.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini, Nanik Asnawati, menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi dilakukan melalui koperasi dan berbagai usaha produktif. Koperasi pesantren tersebut memiliki 19 unit ritel, usaha air minum dalam kemasan, serta Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) dengan 10 kantor layanan.
Menurut Nanik, usaha tersebut tidak hanya ditujukan untuk menopang kebutuhan operasional pesantren, tetapi juga menjadi sumber pendanaan berbagai program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
"Manfaat usahanya disalurkan setiap tahun melalui beasiswa santri tahfidz, santri berprestasi, bantuan seragam, dan fasilitas belajar," ungkapnya.
Ia menambahkan, pesantren juga menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako setiap Ramadan, hewan kurban, serta bantuan pembangunan dan renovasi fasilitas masyarakat.
Pada 2026, koperasi pesantren tersebut meraih penghargaan Koperasi Berprestasi Jawa Timur kategori kopontren mandiri dan Santripreneur Nasional kategori perdagangan, berdasarkan keterangan pihak pesantren.
Pengembangan usaha menjadi salah satu cara pesantren memperluas sumber pendanaan secara mandiri. Dengan dukungan kegiatan ekonomi, pesantren berupaya menjaga keberlanjutan layanan pendidikan sekaligus memperbesar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat di sekitarnya.
Mengembangkan Pesantren yang Lebih Ramah Lingkungan
Selain sektor ekonomi, Al Yasini mengembangkan pendekatan eco-pesantren berbasis ekoteologi. Upaya tersebut mencakup pengelolaan sampah, penghematan energi, pemanfaatan tenaga surya, hingga pengembangan biogas.
Langkah ini memperlihatkan bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari kehidupan pendidikan pesantren. Pengelolaan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pemeliharaan fasilitas, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kebiasaan dan tanggung jawab bersama di kalangan santri.
Menurut Nanik, berbagai inisiatif lingkungan tersebut juga mengantarkan Al Yasini diusulkan untuk menerima penghargaan lingkungan hidup dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur.
Di sisi lain, pesantren mulai memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan dan komunikasi dengan orang tua santri.
Al Yasini mengembangkan aplikasi Al Yasini-U yang memungkinkan wali santri memantau sejumlah aspek perkembangan anak, seperti kesehatan, kedisiplinan, prestasi, kehadiran, dan perizinan.
Pesantren itu juga menghadirkan aplikasi Saku untuk mendukung transaksi nontunai melalui kartu tanda santri. Sistem tersebut memungkinkan orang tua mengatur batas pengeluaran anak selama berada di lingkungan pesantren.
“Dalam menghadapi perkembangan teknologi, kami mengembangkan aplikasi Al Yasini-U untuk memudahkan wali santri memantau kesehatan, kedisiplinan, prestasi, kehadiran, serta perizinan putra-putrinya,” kata Nanik.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya menyesuaikan pengelolaan pesantren dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Di tengah perubahan pola komunikasi dan layanan, teknologi dapat membantu memperkuat keterlibatan orang tua sekaligus mendukung pengelolaan kegiatan santri.
Rangkaian kunjungan Nasaruddin di Jawa Timur juga mencakup Universitas Yudharta Pasuruan dan Pondok Pesantren Mambaus Shalihin di Gresik. Dalam kunjungan ke Universitas Yudharta, Menag menekankan pentingnya memadukan ilmu pengetahuan dan agama untuk membangun kemajuan peradaban.
Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pesantren saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan mutu pembelajaran agama, tetapi juga kemampuan mengelola sumber daya, menjawab kebutuhan masyarakat, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Dengan tetap menjaga nilai-nilai spiritual sebagai landasan pendidikan, penguatan ekonomi, kepedulian lingkungan, dan inovasi digital dapat menjadi bagian dari upaya pesantren memperluas perannya. Pesantren pun berpeluang terus berkontribusi, bukan hanya dalam pendidikan santri, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat.