Ditjen Pesantren Gandeng Kemnaker Buka Pelatihan Vokasi Bagi Santri

Dirjen Pesantren Kemenag Basnang Said. Foto: Antara.

Ditjen Pesantren Gandeng Kemnaker Buka Pelatihan Vokasi Bagi Santri

Anggi Tondi Martaon • 7 October 2026 16:35

Jakarta: Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) menjalin kolaborasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Kerja sama tersebut dalam membuka akses pelatihan vokasi bagi santri, alumni pesantren, pengelola unit usaha pesantren, hingga masyarakat sekitar.

“Pesantren tidak hanya memiliki fungsi pendidikan dan dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Karena itu, kita perlu membuka ruang kolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga agar potensi pesantren, santri, dan alumninya dapat dikembangkan secara optimal,” ujar Dirjen Pesantren Kemenag Basnang Said dikutip dari Antara, Rabu, 7 Oktober 2026.

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui skema Tailor Made Training (TMT) yang dikembangkan Kemnaker melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang. Program tersebut merupakan bagian dari Program Pelatihan Vokasi Nasional dan Program Stimulus Ekonomi Semester II Tahun Anggaran 2026.
 


Basnang mengatakan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga menjadi salah satu pendekatan penting dalam memperluas manfaat program pemerintah bagi pesantren. Pesantren memiliki potensi besar dalam pengembangan sumber daya manusia sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pelatihan vokasi menjadi penting agar santri memiliki bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Keterampilan tersebut dapat menjadi modal untuk memasuki dunia kerja, membangun usaha, maupun mengembangkan unit usaha yang telah dimiliki pesantren.

“Harapannya, santri tidak hanya memiliki bekal keilmuan, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha. Dengan begitu, pesantren semakin kuat dalam menjalankan fungsi pemberdayaannya,” ungkap Basnag.


Ilustrasi santri. Foto: Kemenag.

Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti menjelaskan skema TMT memiliki keunggulan karena pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan mitra. Pesantren dapat mengidentifikasi potensi dan kebutuhan di lingkungannya, kemudian mengusulkan jenis pelatihan yang sesuai.

“Pendekatan tailor made ini memungkinkan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pesantren. Jadi, programnya tidak harus seragam. Kita bisa melihat potensi unit usaha, kebutuhan masyarakat, maupun peluang kerja di wilayah sekitar pesantren,” kata Yusi.

Dalam skema tersebut, sasaran peserta tidak terbatas pada santri tingkat akhir. Alumni pesantren yang belum bekerja atau ingin beralih pekerjaan, ustaz dan pengelola unit usaha pesantren, serta masyarakat sekitar juga dapat mengikuti pelatihan. Hasil yang dituju mencakup peserta siap kerja, mampu berwirausaha, dan berkembangnya unit usaha pesantren.

Kepala BBPVP Serang Kemnaker Ady Nugroho menjelaskan program pelatihan vokasi nasional menargetkan 270.000 peserta pada 2026, dengan alokasi khusus skema TMT sebanyak 126.442 peserta. Program tersebut disalurkan melalui 21 unit pelaksana teknis pelatihan vokasi Kemnaker dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026.

“Tailor made berarti pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan. Pesantren bisa mengusulkan jenis pelatihan yang memang dibutuhkan dan memiliki peluang kebekerjaan di wilayahnya,” kata Ady.

Jenis pelatihan yang dapat diusulkan beragam, mulai dari barista, menjahit, digital marketing, otomotif, teknik listrik, hingga operator alat berat. Pemerintah melalui BBPVP memfasilitasi kebutuhan pelatihan tersebut. Peserta tidak dipungut biaya dan mendapatkan uang saku sebesar Rp50.000 per hari serta konsumsi.

(Anggi Tondi)