Harga Emas Dunia Tertekan di Bawah Bayang Penguatan Dolar AS

Harga Emas Dunia Tertekan di Bawah Bayang Penguatan Dolar AS

Gervin Nathaniel Purba • 7 November 2026 13:24

New York: Harga emas tertekan pada perdagangan Jumat waktu setempat, di tengah penguatan dolar AS. Laporan lapangan kerja AS yang melonjak tajam memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Namun secara mingguan, logam mulia ini mencatatkan kenaikan yang solid didorong oleh permintaan aset aman (safe haven) di tengah aksi jual tajam di Wall Street.

Dikutip dari Investing, Sabtu, 7 November 2026, emas pasar spot melemah 0,6 persen menjadi USD4.065,44 per ons. Sementara Harga emas berjangka turun 0,9 persen menjadi USD4.074,75 per ons. Dalam sepekan, emas spot menguat 4,9 persen. Sedangkan emas berjangka naik 4,5 persen.

Laporan tenaga kerja AS jadi perhatian pasar


Para pelaku pasar logam mulia berfokus pada kalender ekonomi AS pada Jumat, dengan laporan lapangan kerja Oktober menjadi perhatian utama.

Berdasarkan laporan Bureau of Labor Statistics AS, total penyerapan tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) naik 165 ribu pada bulan lalu, melonjak jauh melampaui estimasi konsensus sebesar 65 ribu.
 

Angka penyerapan tenaga kerja untuk Agustus dan September juga direvisi naik dengan gabungan sebesar 84 ribu. Sementara itu, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,1 persen, dari 4,2 persen pada September.

Dengan inflasi yang masih berada jauh di atas target jangka panjang Fed sebesar dua persen, laporan yang cemerlang ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tetap sangat kuat. Hal ini secara teori memberikan ruang lebih bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga—sebuah skenario yang dapat memicu tekanan lebih lanjut bagi Wall Street.


Prediksi Harga Emas Hari Ini: Turun ke USD4.040

Ilustrasi emas. Foto: Pixabay



Sementara itu, harga minyak bergerak fluktuatif tetapi tetap berada di jalur penurunan mingguan yang tajam. Para analis menunjukkan adanya korelasi antara emas dan minyak mentah. Terlebih dampak kejutan harga energi terhadap ekspektasi suku bunga.

Harapan meningkat Partai Demokrat akan mendesak Presiden dari Partai Republik, Donald Trump, untuk mengakhiri perang Iran dengan cepat menjadi sebuah prospek yang dapat memicu penurunan harga minyak. Hal itu berpotensi memperlemah argumen kenaikan suku bunga Fed.

(Gervin Nathaniel Purba)