Pakistan Jadi Mediator Perang AS-Iran, Bagaimana Bisa?

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan pidato melalui televisi di Peshawar, Pakistan, 10 Mei 2025. (EFE/EPA/BILAWAL ARBAB)

Pakistan Jadi Mediator Perang AS-Iran, Bagaimana Bisa?

Riza Aslam Khaeron • 10 April 2026 18:28

Islamabad: Pakistan berhasil memosisikan diri sebagai mediator kunci antara Amerika Serikat dan Iran. Hal itu dilakukan di tengah kecamuk perang yang telah berlangsung lebih dari sebulan.

Keberhasilan ini merupakan buah dari upaya diplomasi intensif selama berbulan-bulan. Terutama, untuk membangun hubungan dengan pemerintahan Trump, serta pemanfaatan ikatan historis yang mendalam dengan Iran.

Melansir laporan New York Times (NYT) pada 8 April 2026, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata melalui media sosial.

"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama sekutu-sekutu mereka, telah menyetujui gencatan senjata segera," tulis Sharif.

Satu jam sebelumnya, Trump menyatakan telah menyetujui gencatan senjata tersebut setelah berkomunikasi dengan Sharif dan Panglima Militer Pakistan, Field Marshal Syed Asim Munir.

"Ini benar-benar sebuah pencapaian besar bagi Pakistan," kata Michael Kugelman, peneliti senior untuk Asia Selatan di Atlantic Council, kepada NYT.

"Pakistan selama ini bergulat dengan citra global yang sangat buruk, di mana negara-negara tidak melihatnya sebagai negara yang berpengaruh secara regional atau bahkan global."
Pakistan berhasil membalikkan keadaan secara mengejutkan.

Negara yang pernah dicemooh Trump sebagai pihak yang hanya menawarkan "kebohongan dan tipu daya" serta sempat dijauhi oleh pemerintahan Biden ini, kini meraih salah satu kemenangan diplomatik terbesarnya dalam beberapa tahun terakhir.
 
Baca Juga:
Mantan Menlu Iran Meninggal Dunia Akibat Serangan AS-Israel
 

Usaha Pakistan Mendekati Trump Membuahkan Hasil

Mengutip NYT, para pejabat Pakistan mulai mendekati Trump dan lingkaran dalamnya tak lama setelah ia terpilih kembali.

Mereka bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump, menominasikannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, dan berulang kali menyampaikan apresiasi atas bantuannya dalam mengakhiri konflik singkat dengan India pada Mei lalu—meskipun para pejabat India menyebut bahwa ia sebenarnya tidak terlibat secara langsung.

Trump sendiri telah menjuluki panglima militer Pakistan sebagai "field marshal favorit", dan keduanya tercatat telah bertemu setidaknya tiga kali dalam setahun terakhir.

"Pakistan bersedia terlibat dalam taktik diplomatik tidak konvensional yang mengumpulkan poin di Washington—termasuk sanjungan berlebihan dan peluang komersial dengan lingkaran dalam Trump," kata Kugelman kepada NYT.

Hubungan mendalam Pakistan dengan Iran selama puluhan tahun serta kepemilikan perbatasan sepanjang 565 mil (sekitar 909 km) membantu menjelaskan mengapa Islamabad memiliki pemahaman geopolitik yang mendalam tentang Iran. Pakistan memang telah lama menjadi perantara pesan bagi Amerika Serikat atas nama Iran.

"Pakistan telah mewakili kepentingan Iran di Washington selama puluhan tahun, seperti Swiss yang mewakili Amerika Serikat di Teheran," kata Azeema Cheema, direktur pendiri Verso Consulting, sebuah firma riset yang berbasis di Islamabad.

Pakistan menjalankan peran mediasi ini dengan dukungan Tiongkok. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, melakukan perjalanan untuk bertemu dengan rekannya dari Tiongkok, Wang Yi.

Perdana Menteri Sharif telah mengundang pejabat AS dan Iran untuk melakukan pembicaraan lanjutan di Islamabad pada Jumat, 10 April 2026.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah mengonfirmasi kehadiran Iran, menurut pernyataan Sharif pada Rabu setelah keduanya berbicara melalui telepon. Sedangkan Wakil Presiden AS JD Vance ketika berita ini disusun tengah menuju Islamabad untuk perundingan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)