KH Zulfa Mustofa. Dokumentasi NU Online
Warga NU Diajak Hidupkan Kembali Tradisi Menulis Kitab
Whisnu Mardiansyah • 8 July 2026 22:52
Jakarta: Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, akan meluncurkan dan membedah kitab terbarunya yang berjudul Ithafu Ummati Al Muqtafa. Bedah buku ini untuk menggairahkan kembali tradisi keilmuan ulama, khususnya kebiasaan menulis kitab di kalangan NU.
Peluncuran kitab ini berlangsung menjelang Muktamar PBNU, di saat publik mulai melirik arah kepemimpinan, masa depan keilmuan, dan kontribusi strategis NU dalam menjawab persoalan umat, bangsa, dan peradaban Islam di Indonesia.
KH Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan santri untuk kembali menggeliatkan tradisi menulis kitab. Menurutnya, ini bagian dari upaya menjaga rantai ilmu dan membangun peradaban Islam yang berkelanjutan.
Ia menilai, sejak awal perkembangan Islam hingga masa Nusantara, kemajuan peradaban tidak hanya lahir dari ulama yang saleh dan berilmu, tetapi juga dari karya-karya tulis yang mereka wariskan. Kitab para ulama menjadi penghubung ilmu lintas generasi, bahkan tetap dikenang lama setelah pengarangnya tiada.
"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ungkap KH Zulfa dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 8 Juli 2026.
KH Zulfa menyebut pesantren selama ini dikenal sebagai pusat penyebaran ilmu agama melalui kajian kitab kuning. Namun, ia menekankan perlunya pesantren juga melahirkan karya-karya baru sebagai respons atas perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, tantangan umat kini makin kompleks, mulai dari kemajuan teknologi, perubahan sosial, hingga isu kebangsaan dan kemanusiaan. Semua itu membutuhkan jawaban ilmiah yang lahir dari ulama yang menguasai tradisi sekaligus peka terhadap realitas kekinian.
"Memang penting dan perlu kita membaca, mengaji, dan mengkaji kitab para ulama terdahulu. Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Di situlah estafet keilmuan terus berjalan," kata KH Zulfa.
Peluncuran kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa juga menegaskan bahwa tradisi keulamaan NU tidak boleh berhenti pada pengajaran lisan semata, melainkan harus terus bertumbuh menjadi budaya produksi ilmu, penulisan kitab, dan penguatan literasi Islam Nusantara.
KH Zulfa menegaskan menulis kitab bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan bagian dari dakwah dan pengabdian kepada umat. Lewat karya tulis, ilmu dapat diwariskan, dikaji, dan menyebar lintas ruang dan waktu.
Ia juga mengingatkan bahwa para ulama besar dalam sejarah dikenang tidak semata karena keluasan ilmu atau banyaknya santri, melainkan karena warisan tulisan yang ditinggalkan. Kitab menjadi bukti otoritas keilmuan sekaligus jejak intelektual yang terus mengalirkan manfaat.
"Ceramah dapat menggerakkan hati pada masanya. Tetapi kitab menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa. Karena itu, setiap ulama perlu memiliki semangat untuk meninggalkan karya sebagai bagian dari amal jariyah keilmuan," terang KH Zulfa.
KH Zulfa berharap semangat menulis kitab kembali tumbuh subur di lingkungan NU, baik di pesantren, kampus, maupun lembaga bahtsul masail. Tradisi membaca harus berjalan seiring dengan tradisi menulis agar khazanah keilmuan Islam Indonesia terus berkembang dan memberi manfaat luas.
Gagasan inilah yang melandasi lahirnya kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa. Kitab ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkaya literasi Islam Indonesia melalui karya yang berpijak pada sanad keilmuan, menjawab tantangan zaman, dan tetap berakar pada tradisi pesantren.
Momentum ini diharapkan menjadi seruan terbuka bagi para ulama, kiai, akademisi, dan komunitas pesantren untuk kembali memperkuat tradisi menulis kitab sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ilmu, memperkaya khazanah Islam Indonesia, serta membangun peradaban yang berlandaskan sanad, ilmu, dan pengabdian kepada umat.