The 24th Economix Bahas Transisi Energi dan Peluang Perdagangan

Sejumlah pembicara dan panelis dalam International Dialogue The 24th Economix FEB UI yang membahas transisi menuju ekonomi hijau. (Foto: Ist)

The 24th Economix Bahas Transisi Energi dan Peluang Perdagangan

Patrick Pinaria • 21 September 2026 13:47

Jakarta: The 24th Economix FEB UI sukses menyelenggarakan International Dialogue bertema 'Beyond the Barrel: Navigating Energy Transition as New Trade Opportunities'. Forum tersebut diikuti lebih dari 650 peserta dan mempertemukan mahasiswa, akademisi, pelaku industri, serta pembuat kebijakan untuk membahas pergeseran dinamika ekonomi global dari energi fosil menuju ekonomi rendah karbon.

Pelaksanaan acara tahun ini disesuaikan menjadi format hybrid menyusul aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, serta imbauan resmi dari pihak kampus untuk membatasi pengumpulan massa.


Mengingat adanya imbauan pembatasan massa, rangkaian acara dialog The 24th Economix FEB UI tahun ini turut dilangsungkan secara daring. (Foto: Ist)

Sesi utama dibuka CEO Nature-Based Solutions Golden Agri-Resources, Dr. Götz Martin. Ia menegaskan transisi hijau di sektor agribisnis membutuhkan kualitas eksekusi nyata, percepatan hilirisasi, serta data pasar karbon yang dapat dilacak.

Perspektif tersebut diperkuat Director of AZEC ERIA, Dr. Nuki Agya Utama yang memaparkan permintaan listrik di Indonesia diproyeksikan melonjak dari sekitar 360 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 500 TWh pada 2034.

Menurut Nuki, fenomena tersebut lebih tepat disebut sebagai penambahan energi atau energy addition ketimbang penggantian total. Karena itu, pemensiunan pembangkit fosil perlu dilakukan secara bertahap guna menghindari aset terlantar.

Selanjutnya, Research and Development Advisor CastleAsia, Ian Betts menyoroti pentingnya keterbukaan strategis dan kepastian hukum agar Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah.

Sesi pemaparan kunci ditutup Senior Expert Pertamina Energy Institute, Dr. Adhitya Nugraha. Ia membedah konsep megatrends dan memetakan posisi Indonesia dalam Demand Surge Cluster, di mana Indonesia memiliki permintaan besar tetapi masih membutuhkan akselerasi transfer teknologi serta penguatan kerja sama regional ASEAN.
 



Rangkaian acara kemudian berlanjut ke sesi diskusi panel yang dipandu Kaprodi S-1 Ilmu Ekonomi FEB UI, Dr. Titissari Rumbogo, bersama Asisten Deputi Kemenko Perekonomian, Dr. Farah Heliantina, dan Senior Manager PwC Indonesia Aloysius Damar Pranadi.

Diskusi menyoroti pentingnya APBN sebagai pemantik atau catalyst investasi swasta, khususnya pada infrastruktur jaringan listrik atau grid. Para panelis juga membahas perlunya pembaruan regulasi tarif dan Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) agar proyek energi bersih lebih bankable.


Sesi diskusi panel menyoroti pentingnya peran APBN sebagai pemantik investasi swasta serta kepastian regulasi untuk proyek energi bersih. (Foto: Ist)

Selain itu, pembahasan mencakup ketimpangan kesiapan daerah dalam menyusun dokumen perencanaan energi seperti RUEW dan RUED.

Sesi tersebut ditutup melalui pertanyaan Dr. Titissari kepada Ian Betts mengenai miskonsepsi terbesar dalam transisi energi di Indonesia.

Ian menegaskan hambatan utama saat ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan krisis rasa saling percaya atau trust akibat kebijakan regulasi yang kerap berubah dan dipersepsikan pasar sebagai risiko politik tinggi.

Melalui dialog tersebut, The 24th Economix menegaskan agenda hijau Indonesia menuntut sinkronisasi aturan yang lurus serta keberanian melangkah keluar dari zona nyaman ekonomi ekstraktif.

(Patrick Pinaria)