Sebanyak 13 perusahaan furnitur dan interior Indonesia memperkuat penetrasi pasar Korea Selatan. Foto: KBRI Seoul
Bidik Pasar Korea, 13 Perusahaan Furnitur Indonesia Tampil di KOFURN 2026
Muhammad Reyhansyah • 29 August 2026 01:08
Gyeonggi: Sebanyak 13 perusahaan furnitur dan interior Indonesia memperkuat penetrasi pasar Korea Selatan melalui Korea International Furniture and Interior Fair (KOFURN) 2026 yang berlangsung di KINTEX, Gyeonggi, pada 27–30 Agustus 2026.
Keikutsertaan tersebut difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul bersama Kementerian Perdagangan RI untuk memperluas akses pasar, memperkuat branding produk Indonesia, serta membuka peluang kerja sama dengan buyer dan mitra usaha Korea.
Paviliun Indonesia tahun ini menempati area 144 meter persegi, meningkat dari 108 meter persegi pada KOFURN 2025. Produk yang ditampilkan mencakup furnitur untuk hunian, perkantoran, hotel, kafe, hingga kebutuhan hewan peliharaan.
Saat meresmikan Paviliun Indonesia, Kamis, 28 Agustus 2026, Duta Besar RI untuk Republik Korea Cecep Herawan menyebut partisipasi tersebut sebagai bagian dari diplomasi ekonomi untuk mendorong produk nasional bernilai tambah masuk ke pasar Korea.
“Keikutsertaan Indonesia di KOFURN merupakan bagian dari upaya konkret diplomasi ekonomi untuk membawa lebih banyak produk nasional bernilai tambah masuk ke pasar Korea,” ujar Cecep, dikutip dari siaran pers Kementerian Luar Negeri RI, Jumat, 28 Agustus 2026.
“Kita ingin membangun branding yang kuat sekaligus membuka hubungan bisnis yang berkelanjutan antara pelaku industri Indonesia dan Korea,” lanjut Cecep.
Ke-13 perusahaan yang telah melalui proses kurasi KBRI Seoul dan Kementerian Perdagangan RI tersebut antara lain bergerak dalam produksi furnitur berbahan kayu dan rotan serta produk interior berbasis material alami.
Paviliun Indonesia menonjolkan kekuatan material alami, craftsmanship, desain, dan keberlanjutan. Produk yang ditampilkan memanfaatkan kayu jati, rotan, kayu daur ulang, hingga material seperti eceng gondok, seagrass, pelepah pisang, dan capiz shell.
Sejumlah produk juga menerapkan konsep berkelanjutan melalui penggunaan material daur ulang, bahan alami, serta desain knock-down yang lebih efisien dalam pengiriman.
Menurut Cecep, karakter tersebut menjadi modal penting bagi furnitur Indonesia untuk memenuhi selera konsumen Korea yang semakin mengutamakan desain, kualitas, fungsi, dan keberlanjutan.
“Indonesia memiliki keunggulan yang khas: kekayaan material alami seperti kayu jati dan rotan berkualitas tinggi, dipadukan dengan kreativitas desain dan keterampilan para perajin,” katanya.
Peluang ekspor furnitur Indonesia ke Korea Selatan turut diperkuat implementasi Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA). Melalui perjanjian tersebut, hampir seluruh produk furnitur Indonesia telah menikmati eliminasi tarif bea masuk hingga 0 persen. Satu pos tarif untuk furnitur dan interior berbahan kayu hasil refabrikasi masih dikenakan tarif 5 persen.
Untuk mendorong peluang tersebut menjadi transaksi, KBRI Seoul bersama Korea Federation of Furniture Industry Cooperatives (KFFIC) juga menggelar business matching yang mempertemukan 13 perusahaan Indonesia dengan 16 perusahaan Korea.
Pertemuan itu diarahkan untuk membuka peluang ekspor, distribusi, pengadaan produk, pengembangan desain, serta kemitraan jangka panjang antara pelaku industri furnitur kedua negara.