Trump Konfirmasi Pangeran Arab Saudi Dorong AS untuk Lanjutkan Perang Iran

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Pangeran Mohammed bin Salman, Putra Mahkota dan Perdana Menteri Arab Saudi, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, AS, 18 November 2025. (EPA)

Trump Konfirmasi Pangeran Arab Saudi Dorong AS untuk Lanjutkan Perang Iran

Riza Aslam Khaeron • 26 March 2026 13:37

Washington DC: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, terus mendorongnya untuk mempertahankan postur militer agresif terhadap Iran.

Pengakuan ini menguatkan laporan New York Times (NYT) bahwa penguasa de facto kerajaan tersebut melihat kampanye AS-Israel yang sedang berlangsung sebagai kesempatan sekali dalam satu generasi untuk membentuk kembali kawasan Timur Tengah.

Melansir Turkiyetoday pada Selasa, 24 Maret 2026, ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah MBS mendorongnya dalam kebijakan terkait Iran, Trump menjawab dengan blak-blakan.

"Dia melakukannya, dia seorang pejuang. Dia berperang bersama kita," kata Trump.

Pernyataan singkat namun signifikan ini mencatatkan secara resmi apa yang selama ini hanya bersumber dari pejabat anonim.

Menurut laporan NYT yang diterbitkan pada hari yang sama, Pangeran Mohammed dalam serangkaian panggilan telepon selama sepekan terakhir berargumen bahwa AS harus terus memberikan tekanan hingga berhasil menghancurkan pemerintahan garis keras Iran.

Ia mengatakan kepada Trump bahwa kampanye ini menghadirkan "kesempatan bersejarah" untuk merombak kawasan tersebut.

Laporan NYT, yang mengutip narasumber yang mendapatkan informasi dari pejabat Amerika, menggambarkan sosok pemimpin Saudi yang semakin asertif dalam upayanya membentuk lintasan perang yang telah mengguncang pasar energi global dan mengganggu stabilitas Teluk.

Pangeran Mohammed bahkan berargumen bahwa AS harus mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke dalam wilayah Iran untuk merebut infrastruktur energi dan memaksa pemerintah lengser.

Ia secara khusus mendorong serangan terhadap infrastruktur energi Iran guna melemahkan Teheran.

Trump dilaporkan telah memberikan pertimbangan yang lebih serius dalam beberapa hari terakhir terhadap operasi militer yang menargetkan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran—sebuah langkah yang dinilai sangat berisiko, baik jika dilakukan melalui operasi udara, pasukan darat, maupun serangan amfibi Marinir.
 

Baca Juga:
Dituduh Menyulut Perang, Kenapa Saudi dan Iran Saling Berseteru?
 
Sementara itu, pemerintah Arab Saudi membantah karakterisasi tersebut.

"Kerajaan Arab Saudi selalu mendukung resolusi damai untuk konflik ini, bahkan sebelum konflik dimulai," demikian pernyataan resmi kerajaan, seraya menambahkan bahwa para pejabat "tetap berhubungan dekat dengan pemerintahan Trump dan komitmen kami tetap tidak berubah."

Pernyataan itu kemudian membingkai kerajaan sebagai korban agresi Iran: "Keprihatinan utama kami saat ini adalah mempertahankan diri dari serangan harian terhadap rakyat dan infrastruktur sipil kami." 
 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)