Ilustrasi petugas kesehatan haji. Foto Kemenag
Bukan Hanya Heat Stroke, Simak Potensi Penyakit Ibadah Haji 2026
Muhamad Marup • 15 April 2026 13:57
Jakarta: Penangan kesehatan saat Ibadah Haji bukan hanya penyakit panas atau heat illness seperti heat stroke. Pakar kesehatan dari Griffith University, Dicky Budiman, mengungkapkan, ada potensi penyakit dalam pelaksanaan Ibadah Haji 2026.
Ia menjelaskan, secara prinsip, pendekatan kesehatan Ibadah Haji mengacu pada continuum of care, yaitu pra, selama, dan pasca Ibadah Haji.
Potensi penyakit saat ibadah haji
Infeksi Saluran Napas
Dicky menyebut, penyakit infeksi saluran napas mesti jadi perhatian dalam pelaksanaan Ibdah Haji. Risiko tinggi terjadi karena kepadatan ekstrem, terutama di Mina dan Arafah, serta mobilitas yang tinggi.Penyakit yang umum adalah ISPA seperti batuk, pilek, hingga pneumonia. Strategi pencegahannya meliputi penggunaan masker di area padat, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari kelelahan ekstrem karena dapat menurunkan imunitas.
"Asupan makan, minum, dan istirahat yang cukup juga sangat penting," tambahnya.
Heat illness atau penyakit panas
Dicky melanjutkan, heat illness atau penyakit panas seperti heat stroke, dehidrasi, dan gangguan elektrolit juga harus diwaspadai. Ini krusial, terutama untuk Ibadah Haji 2026 yang diprediksi masih dalam musim panas ekstrem di Arab Saudi.
Ilustrasi petugas kesehatan haji. Foto Kemenag
Jemaah, menurutnya, perlu melakukan persiapan fisik secara bertahap, memahami tanda bahaya heat illness, serta membiasakan minum secara rutin tanpa menunggu haus. Aktivitas sebaiknya dilakukan di tempat teduh dan menghindari waktu terik serta menggunakan pakaian yang menyerap keringat, longgar, dan berwarna terang di luar waktu beribadah.
"Kesiapan logistik kesehatan pribadi juga penting, termasuk membawa obat rutin untuk minimal 40 hari, serta alat bantu seperti inhaler atau insulin jika diperlukan," tuturnya.
Skrining dan vaksinasi
Dicky menekankan pentingnya skrining terkait penyakit komorbid dan vaksinasi dalam pelaksanaan Ibadah Haji. Skrining merupakan prioritas utama karena mayoritas morbiditas dan mortalitas jemaah haji terkait penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, penyakit paru kronik, serta gagal ginjal."Yang perlu dilakukan adalah medical check-up komprehensif, minimal tiga bulan sebelum keberangkatan," ucapnya.
Penyesuaian terapi juga penting agar kondisi pasien benar-benar stabil, bukan sekadar cukup baik. Termasuk juga penilaian istitha’ah kesehatan atau fitness to travel.
"Berdasarkan evidence terkini, studi Kohort Haji dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa lebih dari 60% kasus rawat inap terkait penyakit kronis, bukan infeksi," terangnya.
Dicky menambahkan, vaksinasi bagi jemaah haji merupakan kewajiban, terutama vaksin meningitis. Selain itu, ada vaksin polio, influenza musiman, dan pneumokokus, khususnya bagi usia di atas 60 tahun dengan komorbid, termasuk vaksin Covid-19 tetap penting jika tersedia versi yang terbaru.
"Pendekatan vaksin ini bersifat berbasis risiko, bukan sekadar mandatori, karena pola penyakit infeksi pernapasan masih fluktuatif pascapandemi," jelasnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com