Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi. (Anadolu Agency)
IAEA Tegaskan Inspeksi Nuklir di Iran Akan Tetap Berjalan Meski Ada Keberatan
Muhammad Reyhansyah • 24 June 2026 21:05
Tokyo: Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Mariano Grossi menegaskan inspeksi terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran akan tetap dilaksanakan meski Teheran menyampaikan keberatan terkait kunjungan para inspektur.
Dalam konferensi pers di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant pada Rabu, 24 Juni 2026, Grossi merujuk pada nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, dokumen tersebut secara jelas mengatur peran IAEA dalam mengawasi aktivitas yang berkaitan dengan fasilitas dan material nuklir Iran.
“Kesepakatan itu secara eksplisit menyebutkan bahwa aktivitas nuklir yang akan dilakukan terkait fasilitas material nuklir akan diawasi oleh IAEA,” kata Grossi, seperti dikutip Euronews via Anadolu.
Ia menegaskan bahwa untuk menjalankan mandat tersebut, inspeksi harus dilakukan.
“Apakah itu terjadi lusa, satu minggu lagi, atau 10 hari lagi memang penting, tetapi tidak esensial. Ini akan terjadi,” ujarnya.
Pernyataan Grossi muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa menyatakan Iran pada akhirnya akan mengizinkan inspektur nuklir memasuki negara tersebut.
Trump menepis pernyataan Iran yang menyebut belum ada kunjungan inspektur IAEA yang dijadwalkan. Ia mengatakan para inspektur akan berada di lapangan pada waktu yang tepat.
Pernyataan Trump juga sejalan dengan keterangan Wakil Presiden AS JD Vance yang sebelumnya menyebut Iran telah menyetujui kembalinya inspektur nuklir internasional.
Bagian dari Implementasi MoU
Amerika Serikat dan Iran menandatangani MoU secara jarak jauh pekan lalu yang membuka jendela negosiasi selama 60 hari untuk menyelesaikan sejumlah isu yang masih menjadi sengketa.Isu tersebut mencakup stok uranium yang telah diperkaya Iran, masa depan program nuklir Teheran, serta sejumlah persoalan lain yang belum terselesaikan.
Dokumen yang terdiri dari 14 poin itu juga memuat penghentian permanen operasi militer di seluruh front konflik, termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut terhadap Iran, serta jaminan pelayaran aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Selain itu, kesepakatan tersebut mencakup rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran senilai sedikitnya US$300 miliar, pelonggaran ekspor minyak, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta penegasan kembali komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Baca juga: IAEA Sebut Serangan ke PLTN Barakah Bisa Picu Bencana Nuklir