Dewan Redaksi Media Group Ahmad Punto. Foto: MI/Ebet.
Podium MI: Jangan Pilih Jalan Pintas
Ahmad Punto • 1 July 2026 05:43
GELARAN Piala Dunia selalu menghadirkan banyak pelajaran dan inspirasi. Piala Dunia 2026 pun begitu. Inspirasi itu salah satunya datang dari pemain-pemain yang usianya bahkan belum menyentuh kepala dua, tapi sudah mampu menunjukkan kematangan performa yang jauh di atas usia mereka.
Siapa tidak kenal dengan wonderkid Spanyol, Lamine Yamal? Ia boleh disebut sebagai salah satu talenta terbaik di generasinya. Golnya ke gawang Arab Saudi pada fase grup membuat Yamal mampu menembus jajaran delapan besar pencetak gol termuda sepanjang sejarah Piala Dunia. Ia mencetak gol itu pada usia 18 tahun 343 hari.
Lalu ada pemain muda Maroko, Ayyoub Bouaddi, yang tampil matang dan tenang di tengah kerasnya persaingan level tertinggi. Di usianya yang juga masih 18 tahun, ia mampu membuktikan diri sebagai tulang punggung lini tengah Maroko. Kemarin, ia ikut membawa Maroko maju ke babak 16 besar setelah mengandaskan Belanda lewat adu penalti.
Satu lagi pemain belia yang layak kita jadikan inspirasi ialah Lucas Herrington, bek tengah andalan Australia. Sama seperti Yamal dan Bouaddi, umurnya baru 18 tahun, masih sangat muda, tapi Herrington mampu memikul tanggung jawab besar di jantung pertahanan tim 'Socceroos'.
Mereka datang dari negara yang berbeda, bermain di posisi yang berbeda, dan menjalani cerita yang juga berbeda. Namun, ada satu kesamaan di antara mereka, selain kesamaan usia. Mereka tidak datang tiba-tiba. Mereka tidak lahir melalui jalan pintas, sekonyong-konyong menjadi bintang di lapangan tanpa melalui proses yang melelahkan.
Publik mungkin hanya melihat apa yang terjadi di lapangan. Gol indah Yamal, umpan cantik Bouaddi, atau tekel bersih dari Herrington. Semua itu merupakan sajian yang berhasil mereka suguhkan setelah melewati rangkaian proses yang tak terlihat. Ada tahun-tahun panjang yang mendahului penampilan cemerlang mereka hari ini.
Ada latihan yang berulang setiap hari. Ada seleksi yang ketat. Ada persaingan yang tak mengenal belas kasihan. Ada kegagalan, cedera, bangku cadangan, dan tekanan untuk terus membuktikan diri. Tanpa itu semua, mereka hanyalah anak muda biasa. Anak muda yang cuma punya kelebihan dari sisi usia, tapi tak cukup kompeten untuk bisa mendapatkan tempat di panggung utama.
Karena itu, ketika seorang pemain berusia 17 atau 18 tahun diberi kepercayaan tampil di turnamen terbesar dunia, itu bukan hadiah. Kepercayaan yang mereka dapatkan ialah hasil dari proses yang berhasil mereka menangi.
Hal itulah yang membuat kemunculan pemain-pemain muda tersebut menginspirasi. Mereka membuat kita percaya bahwa di dunia sepak bola, kerja keras masih memiliki hubungan yang cukup masuk akal dengan kesempatan. Proses yang dijalani dengan kesungguhan dan ketekunan kiranya masih sangat linier dengan hasil yang dicapai.

Ilustrasi permainan sepak bola. Foto: Pexels.
Mengapa kita perlu beri garis tebal soal itu? Karena, sayangnya, keyakinan semacam itu tidak selalu mudah ditemukan di tempat lain. Di 'tempat lain' itu, terkadang kompetensi bukan hal yang esensi. Seleksi tidak selalu berbasis prestasi. Meritokrasi kerap tergusur oleh kuatnya koneksi.
Dalam beberapa waktu terakhir, publik Tanah Air beberapa kali dibuat ramai oleh penunjukan sejumlah anak muda sebagai komisaris BUMN ataupun anak usaha BUMN. Perdebatan pun muncul. Sebagian menyambutnya sebagai tanda regenerasi. Sebagian lain mempertanyakannya, sebagian lagi tidak ragu menunjukkan keberatan.
Keberatan publik sesungguhnya bukan terletak pada usia mereka. Anak muda jadi pemimpin bukan masalah, bahkan perlu. Publik pun tahu tidak ada aturan yang menyatakan jabatan penting hanya boleh diisi mereka yang berumur 50 atau 60 tahun.
Namun, sekali lagi, persoalannya bukan itu, melainkan pada hal yang lebih mendasar. Apakah prosesnya dapat dipercaya? Kompetensi apa yang membuat mereka dianggap pantas menduduki posisi itu? Mengapa mereka yang dipilih, sementara banyak anak muda lain yang memiliki kapasitas serupa atau bahkan lebih baik tidak pernah mendapat kesempatan sama? Di sinilah perbedaan di antara dua panggung itu menjadi terasa. Di lapangan sepak bola, pemain muda memperoleh tempat karena berhasil meyakinkan pelatih bahwa ia layak bermain. Di ruang kekuasaan, kesan yang muncul justru sering berkebalikan. Seseorang lebih dulu diberi tempat, lalu publik diminta percaya bahwa ia layak berada di sana.
Indonesia sejujurnya tidak kekurangan anak muda berbakat. Kita punya banyak Yamal, Bouaddi, atau Herrington dalam bidang yang berbeda-beda. Di kampus, komunitas, perusahaan, bahkan di sudut-sudut yang jauh dari sorotan, selalu ada kaum muda yang tekun membesarkan kapasitas dan meninggikan kualitas diri.
Yang belum selesai kita bangun ialah sistem yang membuat mereka bisa naik ke panggung besar melalui jalan yang benar. Anak-anak muda itu tidak meminta jalan pintas. Mereka hanya meminta satu hal, yakni kesempatan yang datang melalui mekanisme yang adil, melalui proses yang teruji dan bisa dipercaya. Bukan melalui jalur khusus yang lebih mementingkan relasi ketimbang kompetensi.