Arab Saudi Tak Izinkan Wilayahnya Digunakan untuk Serangan Militer terhadap Iran

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. (Anadolu Agency)

Arab Saudi Tak Izinkan Wilayahnya Digunakan untuk Serangan Militer terhadap Iran

Willy Haryono • 28 January 2026 06:21

Riyadh: Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menegaskan bahwa Kerajaan Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah maupun ruang udaranya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam percakapan telepon antara Mohammed bin Salman, yang juga menjabat sebagai perdana menteri, dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA) pada Selasa malam.

Dalam percakapan itu, Mohammed bin Salman menegaskan “posisi Kerajaan dalam menghormati kedaulatan Republik Islam Iran,” seraya menekankan bahwa Arab Saudi “tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udara atau teritorialnya dalam aksi militer apa pun terhadap Republik Islam Iran atau serangan dari pihak mana pun, tanpa memandang tujuan serangan tersebut.”

Dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 28 Januari 2026, ia juga kembali menegaskan dukungan Arab Saudi terhadap “segala upaya yang bertujuan menyelesaikan perselisihan melalui dialog dengan cara yang memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan.”

Dalam pembicaraan yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan negara-negara Islam terhadap Iran di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Teheran, menurut pernyataan kepresidenan Iran.

“Kebijakan prinsipil pemerintah Republik Islam Iran didasarkan pada menjaga persatuan dan kohesi antaretnis dan antarmazhab serta memperkuat solidaritas nasional,” ujar Pezeshkian.

Ia juga menekankan pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim.

“Saya sepenuhnya meyakini bahwa umat Islam dan negara-negara Islam adalah saudara, dan saya yakin bahwa bersama-sama, melalui kerja sama kolektif, kita dapat membangun kawasan yang aman, maju, dan berkembang bagi rakyat kita,” katanya.

Dialog AS-Iran

Pezeshkian mengkritik apa yang ia sebut sebagai “permusuhan” dari Amerika Serikat dan Israel, dengan menuding keduanya melakukan tekanan ekonomi, upaya memicu konflik, serta secara langsung mendukung keresahan di Iran.

“Mereka mengira dengan tindakan-tindakan ini dapat mengubah Iran menjadi Suriah atau Libya, tanpa menyadari bahwa mereka tidak memahami realitas, karakter, dan kebesaran bangsa Iran,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa “kehadiran luas dan sadar bangsa Iran” telah menggagalkan rencana tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa Iran sebelumnya berada dalam proses dialog dengan Amerika Serikat ketika serangan militer dilancarkan. “Kami berdialog dengan Amerika ketika, di hadapan seluruh dunia, mereka melancarkan serangan militer terhadap kami,” katanya.

Menurut Pezeshkian, Iran juga telah mencapai kesepakatan dan konsensus dengan negara-negara Eropa, namun kesepakatan tersebut kemudian dilanggar oleh pihak Amerika Serikat.

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap siap “menyambut proses apa pun yang mengarah pada perdamaian, ketenangan, serta penghindaran konflik dan perang, dalam kerangka hukum internasional dan dengan tetap menjaga serta menghormati sepenuhnya hak-hak bangsa dan negara.”

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa seluruh opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka dalam menghadapi Iran, seiring upaya Amerika Serikat dan Israel untuk mengubah sistem pemerintahan di negara tersebut. Pejabat Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang “cepat dan menyeluruh.”

Baca juga:  Uni Emirat Arab Larang Penggunaan Wilayahnya untuk Serang Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)