Gunung Meletus, Ini 6 Penyakit akibat Abu Vulkanik dan Cara Mencegahnya

Abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Foto: ANTARA/Desi Purnama Sari.

Gunung Meletus, Ini 6 Penyakit akibat Abu Vulkanik dan Cara Mencegahnya

Riza Aslam Khaeron • 6 September 2026 14:07

Jakarta: Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra menyusul aktivitas erupsi yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 malam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu, 6 September 2026 mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur, sementara material pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat.

Sebaran abu vulkanik tidak hanya dapat mengganggu penerbangan dan aktivitas masyarakat. Material halus yang terbawa udara tersebut juga perlu diwaspadai karena dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama jika terhirup atau mengenai mata dan kulit.

Lantas, penyakit apa saja yang perlu diwaspadai akibat paparan abu vulkanik? Mengutip Kementerian Kesehatan (Kemenkes), berikut daftarnya.
 

Penyakit Akibat Abu Vulkanik


Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik yang diduga sampai ke Kota Bandarlampung. Minggu (6/9/2026). ANTARA/HO-Tangkapan layar

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes tahun 2014, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, menyebutkan setidaknya terdapat enam kelompok penyakit atau gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai setelah terjadi letusan gunung berapi:

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

ISPA adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung dan tenggorokan hingga bronkus dan paru-paru. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh virus. Saluran pernapasan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling mudah terdampak karena partikel abu dapat terhirup bersama udara.

Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi pada hidung dan tenggorokan dengan gejala seperti pilek, tenggorokan terasa sakit, batuk kering, hingga rasa tidak nyaman saat bernapas.

2. Pneumonia dan Bronkitis

Partikel abu vulkanik berukuran kecil dapat masuk ke trakea dan bronkus ketika terhirup sehingga menyebabkan iritasi. Bronkitis merupakan peradangan pada saluran bronkus, yaitu saluran yang membawa udara masuk dan keluar dari paru-paru.

Peradangan ini menyebabkan saluran napas membengkak dan menghasilkan lebih banyak lendir, sehingga penderitanya dapat mengalami batuk berdahak, mengi, nyeri dada, hingga sesak napas. Pada orang yang telah memiliki gangguan pernapasan, paparan abu dapat memperburuk gejala bronkitis.

Sementara itu, pneumonia adalah infeksi pada paru-paru yang menyebabkan kantung udara (alveoli) terisi cairan atau nanah. Gejalanya dapat berupa batuk, demam, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas. Pneumonia dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur.

3. Alergi, Radang, dan Iritasi Mata

Abu vulkanik memiliki tekstur yang abrasif sehingga dapat mengirritasi permukaan mata. Paparan dapat menyebabkan mata merah, berair, terasa perih, gatal, atau seperti kemasukan benda asing.
Pada kondisi tertentu, partikel abu juga dapat menyebabkan konjungtivitis dan goresan pada kornea.

Penggunaan kacamata pelindung sangat dianjurkan ketika seseorang harus beraktivitas di wilayah yang sedang mengalami hujan abu.

4. Alergi, Infeksi, dan Iritasi Kulit

Selain mata dan pernapasan, kulit yang terpapar langsung abu vulkanik juga dapat mengalami gangguan. Keluhan dapat berupa kulit gatal, kemerahan, atau terasa tidak nyaman. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi kontak langsung dengan material abu.

5. Gangguan Saluran Pencernaan

Gangguan pencernaan juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang dapat muncul setelah erupsi. Risiko ini tidak semata-mata berasal dari abu yang terhirup, tetapi juga akibat mengonsumsi bahan pangan atau air yang terkontaminasi.

Oleh karena itu, makanan, buah, dan sayuran yang terkena abu perlu dicuci hingga benar-benar bersih sebelum dikonsumsi. Sumber air dan tempat penampungan air juga sebaiknya ditutup rapat agar tidak terkontaminasi.

6. Memperburuk Penyakit Kronis

Paparan abu vulkanik dapat memperburuk kondisi orang yang sebelumnya mempunyai penyakit kronis, khususnya gangguan pernapasan dan jantung.

Penderita asma, bronkitis kronis, emfisema, serta penyakit paru lainnya termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami keluhan setelah menghirup abu. Anak-anak, bayi, serta penderita penyakit pernapasan atau jantung kronis juga termasuk kelompok berisiko lebih tinggi.

Pada penderita asma atau bronkitis, abu dapat menyebabkan sesak napas, mengi, serta batuk menjadi lebih berat. Karena itu, penderita penyakit kronis dianjurkan tetap mengonsumsi obat rutin dan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama terjadi hujan abu.
 

Cara Mencegah Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan

Kemenkes memberikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko penyakit akibat letusan gunung berapi. Prof. Tjandra menerangkan 7 langkah pencegahan yang perlu diketahui masyarakat:
  1. Hindari keluar rumah bila tidak memiliki keperluan mendesak.
  2. Gunakan alat pelindung seperti helm dan masker jika terpaksa keluar rumah.
  3. Tutup sarana air bersih, sumur gali terbuka, dan penampungan air agar tidak terkena debu.
  4. Cuci dengan bersih semua makanan, buah-buahan, dan sayuran sebelum dikonsumsi.
  5. Segera berobat ke fasilitas kesehatan bila terdapat keluhan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi pada mata dan kulit.
  6. Pastikan obat rutin selalu dikonsumsi bagi masyarakat yang memiliki penyakit kronis.
  7. Selalu terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Masyarakat di wilayah yang terdampak abu Gunung Anak Krakatau juga perlu mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi, BNPB, dan pemerintah daerah karena arah serta luas sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin dan aktivitas erupsi.

(Riza Aslam Khaeron)