Percepatan Eliminasi Tuberkulosis Jadi Langkah Darurat Nasional

Hasil rontgen penderita tuberkuloksi. Foto: Ilustrasi Medcom.id

Percepatan Eliminasi Tuberkulosis Jadi Langkah Darurat Nasional

M. Iqbal Al Machmudi • 7 April 2026 11:42

Jakarta: Pemerintah menegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (Tb), sebagai langkah darurat nasional. Hal ini menyusul tingginya angka penularan dan kematian akibat penyakit tersebut.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin P. Octavianus, mengungkapkan setiap menit dua orang terinfeksi Tb. Kemudian, setiap empat menit satu orang meninggal dunia di Indonesia.

"Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan," kata Benjamin dalam keterangan yang dikutip Selasa, 7 April 2026.

Indonesia mencatat lebih dari 1 juta kasus Tb setiap tahunnya, menjadikannya sebagai salah satu negara dengan beban Tb tertinggi di dunia.
 


Sebagai respons, pemerintah mendorong langkah cepat melalui deteksi dini masif, termasuk Program Cek Kesehatan Gratis dengan target menjangkau 130 juta masyarakat pada 2026.

Selain itu, strategi lain yang diperkuat meliputi pelacakan kontak erat, pemberian terapi pencegahan Tb, serta penguatan peran masyarakat dan kader kesehatan.

“Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” ujar Benny sapaan akrabnya.

Dukungan global juga terus diperkuat. Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, menyebut Indonesia menyumbang sekitar 10% dari total kasus Tb dunia.


Hasil rontgen penderita tuberkuloksi. Foto: Ilustrasi Medcom.id

Data menunjukkan, pada 2024 terdapat sekitar 118.000 kematian akibat Tb pada orang tanpa HIV. Kemudian, 8.100 kematian akibat Tb, pada orang dengan HIV di Indonesia.

“TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” ujar Jati.

WHO juga menyoroti tantangan besar, seperti kasus yang belum terdiagnosis, Tb resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Meski demikian, harapan tetap ada melalui inovasi, dengan lebih dari 100 alat diagnostik, 29 obat TB, dan 18 kandidat vaksin yang sedang dikembangkan.

“Ini saatnya bertindak sekarang,” pungkas Jati.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)