Penggilingan padi kelompok tani. Foto: dok M4CR.
Rehabilitasi Mangrove Perkuat Ekonomi Masyarakat Pesisir
Husen Miftahudin • 22 September 2026 23:32
Jakarta: Degradasi ekosistem mangrove masih menjadi salah satu tantangan lingkungan di kawasan pesisir Indonesia. Alih fungsi lahan, tekanan ekonomi masyarakat pesisir, serta minimnya insentif untuk menjaga kawasan mangrove membuat sejumlah wilayah kehilangan pelindung alami dari abrasi, gelombang pasang, dan dampak perubahan iklim.
Kerusakan mangrove tidak hanya berdampak terhadap ekosistem, tetapi juga sumber pangan masyarakat pesisir. Mangrove menjadi habitat pemijahan ikan dan udang, melindungi tambak serta lahan pertanian dari intrusi air laut, dan membantu menjaga kualitas air di kawasan budidaya. Ketika kawasan mangrove rusak, kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap sumber pangan dan penghidupan masyarakat pesisir.
Terkait hal tersebut, Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) menjadi salah satu inisiatif rehabilitasi mangrove di Indonesia. Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) bersama Bank Dunia menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektare hingga 2027.
Program tersebut menyasar empat provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Dalam pelaksanaannya, rehabilitasi mangrove melibatkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan mangrove. Salah satunya dilakukan di Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Melalui pendampingan M4CR, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mangrove meningkat. Masyarakat juga mulai melakukan penyulaman atau penanaman kembali pada kawasan mangrove yang mengalami kerusakan.
Masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Sinar Abab Mandiri telah mendapatkan pendampingan rehabilitasi mangrove sejak 2024. Kelompok tersebut melakukan penanaman mangrove seluas 275 hektare menggunakan metode silvofishery, yakni memadukan tanaman mangrove dengan kegiatan budi daya perikanan.
Selain itu, terdapat tambahan 11 hektare melalui konsep pengayaan untuk meningkatkan kerapatan vegetasi mangrove yang telah ada. Bagi M4CR, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan menjadi bagian penting untuk memastikan rehabilitasi tetap terjaga setelah penanaman selesai.
Karena itu, dukungan kepada masyarakat tidak hanya diberikan untuk kegiatan rehabilitasi, tetapi juga diarahkan pada penguatan sumber penghidupan yang telah berkembang di kelompok.
Baca Juga :
Generasi Muda Diajak Jadi Penjaga Mangrove
Perkuat penggilingan padi
Salah satu sumber penghidupan masyarakat di Desa Kutai Lama adalah pertanian padi yang dikelola KTH Sinar Abab Mandiri pada lahan gambut. Lahan pertanian tersebut dikelilingi parit yang berfungsi sebagai saluran pengairan sawah. Parit yang sama juga dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya ikan air tawar.
Melihat potensi itu , M4CR memberikan dukungan penguatan usaha melalui skema matching grant. Bantuan tersebut dimanfaatkan KTH Sinar Abab Mandiri untuk memperkuat usaha penggilingan padi yang dikelola secara kolektif.
Penguatan usaha penggilingan juga mempertimbangkan kondisi geografis Delta Mahakam. Lahan pertanian hanya dapat dijangkau dengan menyusuri Sungai Mahakam sehingga pengangkutan gabah ke darat untuk proses penggilingan membutuhkan waktu dan biaya. Karena itu, keberadaan rumah penggilingan padi di sekitar areal pertanian menjadi salah satu solusi bagi kelompok.
Dukungan M4CR memungkinkan proses pengolahan hasil panen dilakukan langsung di lokasi. Bantuan tersebut digunakan untuk membeli mesin rice polisher dan separator. Ketua KTH Sinar Abab Mandiri Hamka mengatakan penggunaan mesin tersebut meningkatkan kualitas beras yang dihasilkan kelompok.
"Sebelumnya hasil berasnya kotor. Tapi setelah kami dapat bantuan dari M4CR yang kami belanjakan dalam bentuk mesin rice polisher untuk menghilangkan sisa kulit ari yang melekat, beras jadi lebih bersih dan putih. Kami belanja pengayak atau separator untuk memisahkan beras yang utuh dan beras yang patah dan beras menir," ungkap Hamka seperti dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 22 September 2026.
Selain meningkatkan kualitas produksi, pengelolaan penggilingan padi dirancang untuk menjaga keberlanjutan usaha kelompok. Sebesar 10 persen dari setiap hasil penggilingan dialokasikan sebagai kas kelompok.
Dana tersebut digunakan untuk perawatan peralatan, perbaikan rumah produksi, dan kebutuhan operasional lainnya sehingga anggota tidak perlu menanggung biaya secara mandiri.
(Ilustrasi tanaman mangrove. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian)
Rehabilitasi mangrove beriringan dengan ekonomi
PPIU Manager M4CR Asman Azis mengatakan keberlanjutan rehabilitasi mangrove turut dipengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengelola dan memperoleh manfaat dari lanskap pesisir tempat mereka tinggal.
Menurut dia, penguatan usaha seperti penggilingan padi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem penghidupan yang saling mendukung. Pemulihan lingkungan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal.
"Pelaksanaan rehabilitasi mangrove M4CR juga memperhatikan sosial dan ekonomi, masyarakat dapat memperoleh manfaat dan memiliki alasan untuk terus menjaga kawasan tersebut. Ketika masyarakat memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan, maka upaya menjaga mangrove juga dapat tumbuh menjadi kesadaran dan inisiatif bersama," ucap dia.
Pengelolaan penggilingan padi juga mendukung ketahanan pangan anggota kelompok. Sebagian hasil panen disimpan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, sedangkan sisanya dijual ke pasar.
KTH Sinar Abab Mandiri turut memfasilitasi pemasaran hasil panen tanpa membebankan biaya jasa kepada anggota. Pengelolaan tersebut dilakukan dengan prinsip saling membantu dan memperkuat manfaat usaha bagi anggota kelompok.
Melalui pendekatan berbasis masyarakat, M4CR mendorong pemulihan mangrove yang tidak hanya memperbaiki fungsi ekologis kawasan, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya dan membangun penghidupan berkelanjutan.
Di Desa Kutai Lama, upaya tersebut dilakukan melalui keterlibatan masyarakat dalam menjaga mangrove sekaligus mengembangkan potensi ekonomi di kawasan sekitarnya.