IRGC mengatakan Iran akan mengubah persenjataan perang jika AS kembali menyerang Iran. (Anadolu Agency)
IRGC Berencana Ubah Persenjataan Perang jika AS Kembali Serang Iran
Willy Haryono • 21 September 2026 15:45
Teheran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan Iran akan mengubah persenjataan dan “geografi perang” jika Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Juru bicara IRGC Hossein Mohibi menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah program televisi pada Minggu malam waktu setempat saat membahas sejumlah isu terkini.
“Jika serangan baru terjadi, operasi pertahanan dan ofensif kami akan berubah secara signifikan. Kami akan mengubah senjata dan geografi perang, serta membawa kemampuan baru dengan kapasitas baru ke medan perang. Dunia akan terkejut,” kata Mohibi, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Senin, 21 September 2026.
“Target kami tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kami telah mengidentifikasi target-target baru yang belum pernah diserang,” lanjutnya.
Mohibi mengatakan Iran siap menghadapi perang dalam jangka panjang. Menurut dia, perang memiliki tahapan yang berbeda dan tidak berakhir, melainkan terus berlanjut.
“IRGC telah siap menghadapi perang dan sekarang bahkan lebih siap,” ujarnya.
Mohibi juga mengatakan IRGC tidak melakukan komunikasi dengan AS dan angkatan bersenjata Iran tidak terlibat dalam diplomasi. Ia menegaskan bahwa misi utama militer adalah mempertahankan negara.
Mohibi juga mengklaim dominasi AS di kawasan telah berakhir. Menurut dia, Iran, bukan Washington, yang membentuk tatanan baru di kawasan.
Ketegangan di Selat Hormuz
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS terkait Selat Hormuz. Kedua negara masih berselisih mengenai pelayaran di jalur strategis tersebut, yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menargetkan gedung pemerintahan, fasilitas militer, infrastruktur rudal, dan pertahanan udara.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan.
Perang tersebut berhenti sementara melalui gencatan senjata pada April. Kedua pihak kemudian menandatangani memorandum pada Juni untuk mencapai kesepakatan perdamaian final dalam waktu 60 hari.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh beberapa pekan kemudian. Meski demikian, upaya untuk mengakhiri konflik masih berlangsung melalui mediator, yakni Pakistan dan Qatar.
Baca juga: IRGC Klaim Tembak Jatuh Drone MQ-1 AS di Selat Hormuz