CEO perusahaan pelayaran F. Laeisz, Nikolaus Schues. (Anadolu Agency)
Perang Iran Ganggu Perdagangan Global, Industri Jerman Desak Diplomasi Cepat
Muhammad Reyhansyah • 20 April 2026 19:25
Berlin: Pelaku industri pelayaran dan energi Jerman mendesak langkah diplomatik segera di tengah meningkatnya dampak konflik Iran terhadap keamanan transportasi laut dan pasokan energi global.
CEO perusahaan pelayaran F. Laeisz, Nikolaus Schues, mengatakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah memberi tekanan signifikan terhadap sektor pelayaran dan ekonomi global.
“Konflik ini memiliki dampak besar terhadap pelayaran internasional. Tarif kapal tanker, kapal curah, hingga pengangkut amonia semuanya meningkat,” ujarnya, seperti dikutip Anadolu, Senin, 20 April 2026.
Ia memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor ekonomi dan berpotensi memperlambat pertumbuhan global.
Schues juga menilai bahwa meskipun gencatan senjata diperpanjang, pemulihan infrastruktur energi dan normalisasi produksi akan memakan waktu.
“Dampak jangka menengahnya akan negatif. Harga energi naik dan pertumbuhan ekonomi global akan terdampak,” katanya.
Tekanan pada Rantai Pasok Global
Selama beberapa pekan terakhir, konflik antara AS dan Israel melawan Iran telah mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz—jalur strategis bagi distribusi minyak dan gas dunia.Gangguan ini mendorong kenaikan biaya energi dan memberi tekanan pada rantai pasok global.
Di Jerman, dampaknya mulai terasa signifikan. Survei Ifo Institute menunjukkan sembilan dari sepuluh perusahaan industri terdampak negatif oleh konflik tersebut.
Schues menekankan pentingnya diplomasi aktif dari negara-negara Eropa untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga kebebasan navigasi sesuai dengan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS), seraya mengkritik tindakan yang dinilai menghambat akses jalur laut strategis.
Ketegangan dan Risiko Pasar
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah rencana perundingan lanjutan antara AS dan Iran di Islamabad.Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pasukannya menyita kapal kargo berbendera Iran di kawasan tersebut, meski klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Iran, di sisi lain, menilai tuntutan AS serta kebijakan blokade laut telah menghambat kemajuan negosiasi.
Data pelacakan kapal menunjukkan ratusan kapal tertahan di Teluk Persia sejak akhir Februari, memperkuat kekhawatiran terhadap gangguan berkepanjangan pada perdagangan global.
Dorongan Diversifikasi Energi
Direktur Pelaksana Buss Group, Johann Killinger, mengatakan ketegangan di kawasan Teluk telah meningkatkan biaya energi dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi Jerman.“Biaya energi meningkat signifikan dan proyeksi pertumbuhan mulai diturunkan,” ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan akan memperburuk dampak tersebut, serta mendorong pemerintah Eropa untuk meningkatkan upaya diplomasi guna menjaga keamanan jalur pelayaran.
Killinger juga menekankan pentingnya diversifikasi energi dan percepatan pengembangan energi terbarukan.
“Konflik ini menunjukkan bahwa Eropa harus lebih mandiri dalam energi, termasuk melalui pengembangan tenaga angin dan surya,” katanya.
Baca juga: Imbas Penutupan Selat Hormuz: Harga Energi Melambung, Operasional Pelabuhan AS Tertekan