Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Anadolu Agency)
Macron Tuding Hizbullah di Balik Serangan yang Tewaskan Tentara UNIFIL Prancis
Dimas Chairullah • 19 April 2026 14:41
Paris: Seorang tentara penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) asal Prancis dilaporkan gugur dalam sebuah penyergapan di Lebanon selatan, Sabtu pagi waktu setempat, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menuding kelompok Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Korban diidentifikasi sebagai Sersan Staf Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17. Selain menewaskan Montorio, serangan senjata ringan tersebut juga melukai tiga personel militer lainnya, dengan dua di antaranya dalam kondisi serius.
"Semua indikasi menunjukkan bahwa tanggung jawab atas serangan ini terletak pada Hizbullah," tegas Macron melalui media sosialnya, dikutip dari France 24, Minggu, 19 April 2026.
Macron mendesak otoritas Lebanon untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh guna mengidentifikasi dan menuntut para pelaku tanpa penundaan. Ia juga telah menjalin komunikasi langsung dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam untuk memastikan keselamatan personel UNIFIL.
Bantahan Hizbullah
Di sisi lain, Hizbullah secara tegas membantah keterlibatan mereka dalam insiden tersebut. Melalui sebuah pernyataan, kelompok itu menyatakan keterkejutannya atas tuduhan tergesa-gesa yang dilayangkan Prancis.Hizbullah meminta semua pihak untuk menahan diri dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari tentara Lebanon. Mereka juga menekankan bahwa pasukan penjaga perdamaian seharusnya berkoordinasi dengan militer resmi Lebanon dalam setiap operasi mereka.
Insiden berdarah ini terjadi di tengah masa gencatan senjata 10 hari yang baru saja berlaku pada Jumat kemarin, pasca-perang hebat yang pecah sejak 2 Maret lalu. Perang tersebut diketahui telah menewaskan hampir 2.300 orang di Lebanon dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang masif.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, menjelaskan bahwa sersan tersebut terjebak dalam penyergapan dari jarak dekat saat sedang menjalankan misi membuka akses jalan menuju pos UNIFIL yang terisolasi.
"Ia terkena tembakan langsung dari senjata ringan. Rekan-rekannya sempat berupaya menariknya mundur di bawah berondongan peluru, namun nyawanya tidak tertolong," ungkap Vautrin.
Situasi di lapangan kini kembali tegang setelah militer Israel juga melaporkan telah melakukan serangan udara dan darat pada Sabtu kemarin. Israel berdalih langkah itu diambil setelah mengidentifikasi adanya militan yang melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan mendekati wilayah sensitif yang mereka sebut sebagai "Garis Kuning."
Baca juga: RI Berduka dan Kecam Serangan yang Tewaskan Personel UNIFIL Asal Prancis