PM Lebanon, Nawaf Salam. (EFE)
PM Lebanon Sebut Serangan Hizbullah ke Israel Tidak Bertanggung Jawab
Riza Aslam Khaeron • 2 March 2026 10:55
Beirut: Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam keras peluncuran roket dari wilayah selatan Lebanon ke arah Israel. Ia menyebut aksi tersebut sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang membahayakan keamanan nasional dan memberikan alasan bagi Israel untuk memperluas agresinya.
Dalam pernyataan resmi melalui akun X pribadinya, Salam menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan Lebanon terseret ke dalam konflik baru yang berisiko tinggi.
"Siapa pun pihak di baliknya, operasi peluncuran rudal dari Lebanon selatan adalah tindakan tidak bertanggung jawab dan mencurigakan. Hal ini membahayakan keamanan serta keselamatan Lebanon, sekaligus memberikan dalih bagi Israel untuk terus melanjutkan serangannya," tulis Salam pada Senin, 2 Maret 2026.
Dalam unggahan tersebut, Salam menambahkan pemerintah akan mengambil langkah tegas untuk melindungi warga sipil.
"Kami tidak akan membiarkan negara ini terseret ke dalam petualangan baru, dan semua tindakan yang diperlukan akan diambil untuk menangkap para pelaku serta melindungi rakyat Lebanon," tegasnya.
Pernyataan keras ini muncul setelah Hizbullah meluncurkan rangkaian roket dan drone terhadap pangkalan militer Israel di dekat Haifa pada Senin, 2 Maret 2025, dini hari waktu setempat.
Melansir laporan Al Jazeera, kelompok tersebut menyatakan bahwa serangan itu merupakan balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sebagai bentuk 'pembelaan terhadap Lebanon dan rakyatnya' serta 'respons terhadap agresi Israel yang berulang'.
Israel segera membalas dengan melancarkan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut. Pihak militer Israel (IDF) menyatakan bahwa mereka tengah "menyerang Hizbullah dengan gencar" di seluruh wilayah Lebanon.
"Kami akan bertindak melawan keputusan Hizbullah untuk bergabung dalam kampanye ini, dan tidak akan membiarkan organisasi tersebut menjadi ancaman bagi Israel atau mencelakai penduduk di wilayah utara. Organisasi teror Hizbullah sedang menghancurkan negara Lebanon," demikian pernyataan resmi militer Israel.
| Baca Juga: Profil Ali Khamenei, Pemimpin Agung Iran yang Dibunuh AS-Israel |
Laporan lapangan menunjukkan bahwa Israel juga telah memerintahkan evakuasi warga di lebih dari 50 desa di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa, termasuk kota Bint Jbeil. Warga diinstruksikan untuk menjauh setidaknya satu kilometer dari bangunan-bangunan tertentu.
Di sisi lain, Hizbullah tetap pada pendiriannya. Dalam sebuah pernyataan resmi, mereka menyebutkan: "Kepemimpinan perlawanan selalu menegaskan bahwa berlanjutnya agresi Israel serta pembunuhan terhadap para pemimpin, pemuda, dan rakyat kami, memberi kami hak untuk membela diri dan membalas pada waktu serta tempat yang tepat." Kelompok tersebut juga menekankan bahwa musuh tidak bisa terus melakukan agresi selama 15 bulan tanpa menerima respons peringatan.
Eskalasi ini menandai babak baru dalam konflik regional yang melibatkan poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan sekutunya.
Meskipun Hizbullah dan Israel sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata pada November 2024, laporan menunjukkan adanya pelanggaran berulang yang memicu ketegangan hingga mencapai titik didih saat ini.
Pada Januari lalu, Beirut mengajukan pengaduan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendokumentasikan 2.036 pelanggaran kedaulatan Lebanon oleh Israel selama tiga bulan terakhir tahun 2025.
Sementara itu, pemerintah Lebanon tahun lalu telah mengeluarkan dekret untuk melucuti senjata Hizbullah, namun kelompok tersebut menolak keputusan itu dengan alasan senjata mereka diperlukan untuk melindungi negara dari ekspansionisme Israel.