Migran Tewas di Ceuta Capai 90 Orang, Maroko Sebut Angka Berbeda

Migran Maroko yang masuk ke Ceuta, Spanyol. Foto: Anadolu

Migran Tewas di Ceuta Capai 90 Orang, Maroko Sebut Angka Berbeda

Fajar Nugraha • 3 August 2026 07:27

Ceuta: Korban tewas akibat upaya migran menerobos masuk ke Ceuta, Spanyol mencapai 90 orang, namun pihak Maroko sebut angka berbeda dengan jumlah korban tewas tercatat 11 orang.

Pihak berwenang menyebutnya krisis terbesar dalam sejarah wilayah kantong tersebut. Korban tewas akibat upaya massal migran untuk memasuki wilayah kantong Spanyol tersebut.

“Jumlah migran yang tewas di Ceuta, telah mencapai 90 orang,” lapor kantor berita La Sexta, seperti dikutip dari Anadolu, Senin 3 Agustus 2026.

Menurut pihak berwenang setempat, tragedi ini telah menjadi krisis kemanusiaan terbesar yang pernah dihadapi wilayah kantong tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan antara Spanyol dan Maroko.

Para pejabat mengatakan sebagian besar dari mereka yang meninggal dunia sedang mencoba menyeberangi perbatasan di tengah kerumunan besar. Banyak yang terluka dalam desakan dan bentrokan yang terjadi selama upaya menerobos penghalang perbatasan.

Ceuta, bersama dengan wilayah kantong Spanyol lainnya, Melilla, di pantai Afrika Utara, tetap menjadi salah satu jalur migrasi utama ke Eropa. Dikelilingi oleh Maroko, wilayah-wilayah ini adalah satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa di benua Afrika.

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya penyeberangan perbatasan massal telah berulang kali menyebabkan krisis. Para migran dari negara-negara Afrika sub-Sahara, serta dari wilayah lain, mencoba memasuki Ceuta melalui pagar perbatasan atau melalui laut, dengan harapan kemudian melanjutkan perjalanan ke daratan Spanyol dan negara-negara Uni Eropa lainnya.

Setelah tragedi terbaru ini, otoritas setempat meminta Madrid untuk meningkatkan dukungan bagi wilayah kantong tersebut dan meningkatkan kerja sama dengan Maroko untuk mengendalikan arus migrasi. Pemerintah Spanyol sebelumnya telah menyatakan beberapa kali bahwa melindungi perbatasan eksternal Uni Eropa membutuhkan koordinasi dengan mitra Afrika Utara.

Situasi di Ceuta tetap tegang di tengah tekanan migrasi yang terus berlanjut di perbatasan selatan Eropa. Otoritas memperingatkan bahwa tanpa tindakan bersama dari Spanyol, Uni Eropa, dan negara asal para migran, krisis serupa dapat terjadi lagi.

Maroko

Kementerian Dalam Negeri Maroko menyebutkan, upaya massal sekitar 40.000 orang untuk mencapai wilayah kantong Spanyol di Ceuta berakhir dengan 11 kematian.

Juru bicara Kementerian, Rachid El Khalfi pada Minggu 2 Agustus 2026 mengumumkan angka-angka tersebut dalam konferensi pers malam hari mengenai peristiwa terkini di titik-titik penyeberangan menuju Ceuta dan Melilla, menandai komentar resmi pertama dari Rabat tentang upaya migrasi massal.

“Jumlah migran sebenarnya mencapai sekitar 40.000 orang yang menuju kota Ceuta dan sekitar 1.135 orang yang menuju kota Melilla,” kata El Khalfi.

“Semua yang berhasil mencapai Melilla segera dipulangkan,” tambah El Khalfi.

El Khalfi mengatakan satu orang meninggal setelah jatuh dari daerah berbatu dekat Ceuta, sementara 10 lainnya tenggelam selama upaya penyeberangan massal.

Ia mengatakan pihak berwenang menemukan bahwa penyeberangan tersebut bukanlah spontan tetapi didorong oleh kombinasi faktor, termasuk informasi yang salah yang tersebar di media sosial, jaringan perdagangan manusia, dan apa yang ia gambarkan sebagai salah tafsir terhadap perkembangan hukum dan administrasi terkini yang menciptakan kesan bahwa migran dapat mencapai Eropa tanpa menghadapi konsekuensi langsung.

Dirinya menambahkan bahwa putusan pengadilan Spanyol baru-baru ini yang membatasi penggunaan pemulangan segera bagi beberapa migran ilegal yang dicegat di laut telah memperkuat keyakinan di antara beberapa calon migran bahwa mencapai Ceuta melalui laut dapat membantu mereka menghindari pemulangan segera.

El Khalfi mengatakan bahwa otoritas Maroko terus berkoordinasi dengan rekan-rekan mereka di Spanyol untuk memverifikasi laporan kematian tambahan di Ceuta, termasuk identitas dan kewarganegaraan mereka yang terlibat.

(Fajar Nugraha)