Spanyol Pasang Penghalang Apung usai Krisis Migran Ceuta Tewaskan 67 Orang

Spanyol memasang penghalang apung di perbatasan Ceuta setelah krisis migran yang menewaskan sedikitnya 67 orang. (Anadolu Agency)

Spanyol Pasang Penghalang Apung usai Krisis Migran Ceuta Tewaskan 67 Orang

Willy Haryono • 2 August 2026 09:02

Madrid: Spanyol mulai memasang penghalang apung sepanjang 500 meter di perairan perbatasan Ceuta dengan Maroko pada Sabtu kemarin setelah terjadinya gelombang penyeberangan massal yang menewaskan sedikitnya 67 migran.

Pemerintah juga menyatakan tidak ada lagi penyeberangan ilegal yang tercatat sepanjang malam sebelumnya.

Menurut otoritas Spanyol, seperti dilansir dari media France 24, Minggu, 2 Agustus 2026, sekitar 60.000 orang memasuki wilayah Ceuta melalui jalur darat maupun laut sejak Kamis dalam gelombang migrasi terbesar yang pernah terjadi di salah satu perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika. Lebih dari 48.000 orang telah kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam.

Rekaman kantor berita Reuters pada Sabtu memperlihatkan personel militer dan kepolisian Spanyol berpatroli di Pantai Tarajal yang tampak lengang setelah sebelumnya dipadati ribuan migran.

Penghalang Apung

Kepolisian Garda Sipil mulai memasang penghalang apung pada pukul 07.50 waktu setempat di kawasan pemecah ombak Tarajal, salah satu titik utama yang digunakan para migran untuk memasuki Ceuta.

Pemerintah Spanyol menjelaskan barier pneumatik tersebut dipasang bersama deretan pelampung laut yang ditambatkan di perairan. Struktur penghalang dirancang menjulang sekitar 30 hingga 70 sentimeter di atas permukaan air dan mencapai kedalaman hingga satu meter di bawah permukaan laut.

Di antara penghalang tersebut disediakan jalur khusus agar kapal patroli Garda Sipil tetap dapat melakukan pengawasan di kawasan perbatasan.

Krisis migrasi di Ceuta memicu kekhawatiran di Uni Eropa. Sebanyak 22 negara anggota mengirim surat bersama yang meminta langkah terkoordinasi untuk memperkuat perlindungan perbatasan eksternal blok tersebut.

Irlandia, yang saat ini memegang presidensi bergilir Dewan Uni Eropa, mengumumkan akan menggelar rapat darurat para menteri dalam negeri negara anggota melalui konferensi video pada Selasa mendatang.

Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengkritik keputusan Italia yang menangguhkan sementara pengaturan perjalanan bebas paspor Schengen dengan Spanyol selama satu bulan.

"Dalam konteks internasional saat ini, Uni Eropa tidak mampu menghadapi reaksi yang egois, memecah belah, dan bertentangan dengan hukum seperti ini," tulis Sánchez dalam surat kepada Presiden Komisi Eropa dan Presiden Dewan Eropa.

Kematian Puluhan Migran

Sedikitnya 67 jenazah telah ditemukan di sisi perbatasan Spanyol. Otoritas menyebut sebagian korban meninggal karena tenggelam, sementara lainnya tewas akibat terinjak saat berusaha melewati pemecah ombak dan pagar perbatasan.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska menyalahkan jaringan penyelundup manusia yang disebut memanfaatkan kondisi ekonomi para migran serta menyebarkan informasi menyesatkan mengenai putusan Mahkamah Agung Spanyol terkait penanganan migran yang dicegat di laut.

Berbicara di Ceuta, Grande-Marlaska mengatakan situasi pada dasarnya telah berhasil dikendalikan dalam waktu 24 jam, meski pengerahan tambahan aparat kepolisian dan militer akan tetap dipertahankan selama diperlukan.

"Maroko bukan ancaman bagi Ceuta maupun wilayah Spanyol lainnya. Maroko adalah mitra yang sepenuhnya dapat dipercaya," ujarnya.

Serikat Garda Sipil AUGC meminta penambahan sedikitnya 200 personel karena menilai masih diperlukan pengamanan ekstra untuk mencegah upaya migran berenang mengitari barier apung yang baru dipasang.

Pemerintah Spanyol kembali menegaskan bahwa para migran yang memasuki Ceuta secara ilegal tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol maupun wilayah Schengen lainnya. Seluruh penumpang yang meninggalkan Ceuta melalui jalur laut maupun udara tetap menjalani pemeriksaan identitas oleh kepolisian.

Madrid juga membantah tudingan bahwa program legalisasi lebih dari setengah juta migran tidak berdokumen menjadi pemicu gelombang penyeberangan massal tersebut. Pemerintah menegaskan program itu hanya berlaku bagi mereka yang telah tinggal di Spanyol sebelum 1 Januari 2026 dan dapat membuktikan masa tinggal berkelanjutan selama lima bulan saat mengajukan permohonan.

Baca juga:  67 Migran Tewas dalam Krisis di Ceuta, Spanyol Perketat Perbatasan

(Willy Haryono)