Cuaca Panas dan Angin Kencang Hambat Pemadaman Karhutla di Nagan Raya

Kebakaran lahan melanda Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Dokumentasi/ BPBD Nagan Raya

Cuaca Panas dan Angin Kencang Hambat Pemadaman Karhutla di Nagan Raya

Silvana Febiari • 5 June 2026 06:53

Nagan Raya: Tim gabungan menghadapi tantangan yang cukup berat dalam menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Desa Kayee Unoe Kecamatan Darul Makmur dan Babah Lueng Kecamatan Tripa Makmur. Cuaca panas yang ekstrem disertai angin kencang membuat kobaran api cepat menyebar dan menghambat proses pemadaman. 

“Hembusan angin yang kencang di lokasi kejadian serta sangat terbatasnya sumber air bersih untuk menyuplai armada pemadam,” kata Kepala BPBD Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Irfanda Rinaldi, dilansir dari Antara, Jumat, 5 Juni 2026. 

Ia menyebutkan, penanggulangan karhutla ini dilakukan secara bergotong-royong. BPBD Nagan Raya tidak bekerja sendirian, melainkan dibantu penuh oleh personel dari Polres Nagan Raya dan Kodim 0116 Nagan Raya.
 


“Tim gabungan ini terus berjibaku di lokasi demi menyekat pergerakan api agar tidak mendekati permukiman warga,” tuturnya.

Area yang terdampak karhutla tersebut kini telah mencapai sekitar 60 hektare. “Dari total sekitar 60 hektare lahan yang terbakar, tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 40 hektare, sisa lahan lainnya masih dalam proses penanganan intensif karena api berpotensi terus meluas,” ungkapnya.

Untuk mengatasi situasi ini, BPBD Nagan Raya telah mengerahkan dua unit mesin pompa air portable ke titik-titik api yang sulit dijangkau.


Petugas BPBD Nagan Raya melakukan upaya pemadaman kebakaran lahan di kawasan Kecamatan Tadu Raya. (ANTARA/HO-BPBD Nagan Raya)


Kebakaran lahan yang melanda kawasan Kabupaten Nagan Raya pertama kali diterima oleh pihak BPBD dari personel pos pemadam Darul Makmur pada Jumat pekan lalu, 30 Mei 2026. Namun, api diperkirakan sudah mulai menyala dan membakar lahan sejak Kamis, 29 Mei 2026.

BPBD Nagan Raya mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi kering seperti sekarang sangat rawan memicu bencana kebakaran yang lebih luas.

(Silvana Febiari)