Harga Emas Berpotensi Turun, Saatnya Ngeborong Sekarang?

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Berpotensi Turun, Saatnya Ngeborong Sekarang?

Husen Miftahudin • 28 April 2026 11:40

Jakarta: Harga emas dunia pada perdagangan Selasa, 28 April 2026, diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpotensi melanjutkan pelemahan. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai pergerakan XAU/USD saat ini menunjukkan sinyal penurunan yang cukup kuat, terutama setelah harga gagal menembus beberapa level resistance penting.

Secara teknikal, pada timeframe harian, harga emas terlihat tidak mampu menembus area resistance di level USD4.741 dan juga tertahan di resistance kuat berikutnya di level USD4.832. Kegagalan ini menjadi sinyal momentum kenaikan mulai melemah dan pasar tidak memiliki cukup tenaga untuk melanjutkan tren naik dalam jangka pendek.

Geraldo menjelaskan, kondisi tersebut membuka peluang bagi harga emas untuk bergerak turun sebagai bagian dari fase koreksi. Dalam analisis pasar, pergerakan ini sering disebut sebagai secondary trend, yaitu koreksi setelah sebelumnya harga mengalami kenaikan yang membentuk tren utama atau primary trend.

"Dengan tekanan yang masih terlihat, Dupoin Futures memperkirakan harga emas berpotensi turun menuju area support di kisaran USD4.592. Level ini menjadi target awal yang akan diuji oleh pasar. Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut tidak mampu menahan penurunan, maka harga berpotensi bergerak lebih dalam hingga ke level USD4.480," terang Geraldo dalam analisanya, Selasa, 28 April 2026.

Meski demikian, area support tersebut juga menjadi titik penting yang perlu diperhatikan. Respons harga di level tersebut akan menentukan apakah penurunan akan berlanjut atau justru terjadi pantulan sementara.
 

Baca juga: Kilau Harga Emas Dunia Meredup
 

Dolar AS makin kuat


Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas saat ini masih dipengaruhi oleh kondisi dolar Amerika Serikat yang relatif kuat. Ketika dolar berada dalam tren penguatan, harga emas biasanya mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor global.

Selain itu, kebijakan moneter dari Federal Reserve yang masih mempertahankan suku bunga tinggi juga menjadi faktor utama yang membebani harga emas. Suku bunga yang tinggi membuat instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan yield.

"Kondisi ini diperkuat oleh tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang memberikan imbal hasil tetap, sehingga permintaan terhadap emas menurun," papar Geraldo.

Di sisi lain, sambung dia, kondisi pasar global yang relatif stabil juga ikut memengaruhi pergerakan emas. Ketika sentimen pasar berada dalam kondisi positif atau risk-on, minat terhadap aset safe haven seperti emas biasanya berkurang. Hal ini turut memperkuat tekanan penurunan harga emas dalam jangka pendek.


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Harga emas masih berpotensi melanjutkan pelemahan


Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental menunjukkan harga emas masih berpotensi melanjutkan pelemahan. Selama harga belum mampu menembus kembali area resistance penting, tekanan bearish diperkirakan masih akan mendominasi.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati dinamika global yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga. Perubahan sentimen, baik dari data ekonomi maupun perkembangan geopolitik, masih berpotensi memicu volatilitas di pasar emas.

"Dengan kondisi saat ini, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan level-level penting yang menjadi acuan pergerakan harga. Pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis dinilai penting untuk menghadapi pasar yang masih bergerak fluktuatif," papar Geraldo.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)