Kemenkes merespons cepat krisis kesehatan pascagempa bumi di Provinsi NTT dengan mendirikan dua RS lapangan berbasis tenda udara. ANTARA/HO-Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes
Kasus ISPA Dominasi Penanganan Medis Penyintas Gempa NTT
Achmad Zulfikar Fazli • 10 September 2026 21:56
Jakarta: Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan penyakit paling mendominasi dalam penanganan medis penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Laporan kasus ISPA yang menyerang pengungsi di wilayah terdampak menembus puluhan ribu kasus.
"Data kasus penyakit dampak gempa bumi NTT laporan tertinggi adalah kasus ISPA sebanyak 25.017 kasus yang tersebar di Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur," kata juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Widyawati dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, dilansir dari Antara, Kamis, 10 September 2026.
Pihaknya telah memobilisasi 868 relawan kesehatan gabungan ke lokasi bencana terdampak gempa di Pulau Flores, NTT. Pengerahan relawan kesehatan secara simultan demi menopang pelayanan kesehatan yang terganggu akibat kerusakan 169 puskesmas.
Data fasilitas kesehatan puskesmas terdampak di Kabupaten Sikka sebanyak 27 unit, Kabupaten Manggarai Timur 29 unit, Kabupaten Manggarai 25 unit, Kabupaten Ngada 25 unit, Kabupaten Nagekeo sembilan unit, Kabupaten Ende 28 unit, dan Kabupaten Manggarai Barat 26 unit.

Ilustrasi bangunan rusak berat akibat gempa NTT. Foto: dok. Antara.
Kementerian Kesehatan juga mendistribusikan ratusan tenaga medis dalam dua gelombang utama, yakni 206 personel pada 24 Agustus 2026 dan 160 personel pada 7 September 2026, yang diperkuat relawan organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan unsur dari pemerintah daerah.
"Termasuk kami mendistribusikan logistik medis meliputi 10 tenda rumah sakit lapangan, lima unit oxygen concentrator, delapan emergency kit, 16.000 lembar masker, 17.600 pasang sarung tangan medis, serta 444 paket Makanan Pendamping ASI (PMT)," kata Widya.
Dia berharap pengerahan sumber daya media tersebut bisa mengatasi penyakit ISPA dan dua penyakit lainnya yang mendominasi di lokasi pengungsian, yakni dermatitis 1.573 kasus dan diare 1.512 kasus.
Kementerian Kesehatan mengonfirmasi secara kumulatif 135 korban meninggal dunia, 215 jiwa luka berat, 1.552 jiwa luka ringan rawat jalan, dan 55.811 warga mengungsi ke ratusan lokasi pengungsian di tujuh kabupaten.
Jumlah tersebut sebagaimana rekapitulasi tim petugas gabungan di lapangan dalam koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai pukul 07.30 WIB atau 25 hari pascagempa utama magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores.
"Pemantauan sanitasi dan pelayanan medis dasar di posko-posko pengungsian terus diperketat guna mencegah penularan penyakit menular di tengah kondisi lingkungan pengungsian," kata Widya.