Ilustrasi bangunan rusak berat akibat gempa NTT. Foto: dok. Antara.
BNPB Siapkan Huntara untuk Korban Rumah Rusak Berat Pascagempa NTT
Gabriella Thesa Widiari • 9 September 2026 15:08
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memfokuskan penanganan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada percepatan verifikasi data perbaikan rumah warga. Perhatian khusus diberikan kepada korban dengan rumah rusak berat.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, pemerintah menyiapkan skema bantuan perbaikan hunian kategori rusak berat, yaitu pembangunan hunian sementara (huntara) atau pemberian Dana Tunggu Hunian (DTH). Langkah ini dilakukan sebelum pembangunan rumah baru permanen tipe 36 direalisasikan.
"Untuk rumah rusak berat akan dibangun hunian sementara atau diberikan Dana Tunggu Hunian sebelum dibangunkan rumah baru tipe 36," ujar Suharyanto, dilansir dari Antara, Rabu, 9 September 2026.
Verifikasi data lapangan menjadi langkah krusial BNPB untuk memastikan bantuan perbaikan hunian tepat sasaran. Data Direktorat Operasi BNPB mencatat, kerusakan fisik akibat gempa mencapai 98.986 unit rumah dan 3.266 unit fasilitas umum, dengan dampak terparah berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Suharyanto menambahkan, seiring dengan melandainya aktivitas seismik, warga mulai kembali ke rumah masing-masing dan jumlah pengungsi berkurang. Hal ini ditunjang dengan pemulihan jaringan listrik, telekomunikasi, operasional 56 SPBU, serta pendirian tenda sekolah darurat.
BNPB memastikan untuk menopang kebutuhan warga terdampak, penyaluran logistik telah mencapai 2.142 ton atau 98,39 persen dari target distribusi melalui pengerahan 115 sorti penerbangan pesawat dan dua armada kapal laut.

Kepala BNPB Suharyanto. Foto: dok. Antara.
Posko Dukungan Logistik Nasional di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dialihkan selanjutnya di Gudang Logistik BNPB Jati Asih, Kota Bekasi.
"Per Senin, Posko Dukungan Logistik Nasional di Bandara Halim telah ditutup dan bantuan selanjutnya dialihkan ke Gudang Logistik BNPB di Jati Asih, Kota Bekasi," kata Suharyanto.