RS Lapangan Kemenkes di NTT Mulai Layani Operasi Pasien Korban Gempa

Jumpa Pers Penanganan Darurat Gempabumi Magnitudo 7,7 NTT, Rabu (19/8). Dari kiri: Ketua Satgas Bencana Kemenkes Samarjaya, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, dan Deputi Bidang Geofisika BMKG

RS Lapangan Kemenkes di NTT Mulai Layani Operasi Pasien Korban Gempa

Palce Amalo • 19 August 2026 17:32

Nagekeo: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengoperasikan dua rumah sakit lapangan untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dua fasilitas kesehatan darurat tersebut didirikan di Ruteng, Kabupaten Manggarai, serta Rumah Sakit Aeramo di Kabupaten Nagekeo. Keduanya telah mulai memberikan pelayanan kepada pasien, termasuk tindakan operasi.

Ketua Satgas Bencana Kemenkes Samarjaya mengatakan rumah sakit lapangan di Ruteng didirikan untuk membantu pelayanan setelah fasilitas kesehatan setempat terdampak gempa.

"Kami laporkan ada 2 rumah sakit lapangan yang kita kirimkan. Itu di Rumah Sakit Ruteng, karena cukup parah. Jadi kita sudah mendirikan rumah sakit lapangan, dan hari ini telah melakukan operasi di tenda di rumah sakit lapangan," kata Samarjaya dalam keterangan kepada wartawan, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurut Samarjaya, keberadaan rumah sakit lapangan ditujukan untuk mendukung rumah sakit dan puskesmas yang terdampak bencana. Pasien dari fasilitas kesehatan yang mengalami gangguan pelayanan dapat dirujuk ke rumah sakit lapangan.

"Termasuk juga di Rumah Sakit Aeramo di Nagekeo. Nah, itu juga sudah kita operasikan, hari ini sudah berjalan, operasi juga sudah dilakukan," ujarnya.
 


Kemenkes mengerahkan rumah sakit lapangan setelah melakukan pemetaan kondisi fasilitas kesehatan di wilayah terdampak gempa. Pemetaan meliputi kondisi rumah sakit dan puskesmas, jumlah korban, tingkat keparahan luka, jumlah pengungsi, serta lokasi pengungsian.

Data tersebut menjadi dasar penentuan prioritas penanganan kesehatan di tujuh kabupaten di Flores yang terdampak gempa. Selain rumah sakit lapangan, Kemenkes mengirimkan tenaga medis melalui tim Emergency Medical Team (EMT) ke sejumlah fasilitas kesehatan yang sulit dijangkau.

Pengiriman tim medis dilakukan dengan dukungan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Tim diarahkan ke sejumlah puskesmas terdampak, termasuk di Lambaleda dan Dampek.

"Kita bekerja sama dengan teman-teman Basarnas melakukan pengiriman tenaga medis EMT, ya, untuk memberikan layanan di sana, dan kemudian mengevakuasi, mengevakuasi masyarakat atau pasien yang memang perlu dirujuk di rumah sakit," katanya.

Kemenkes juga mengerahkan relawan dari lingkungan kementerian, organisasi profesi, serta lembaga nonpemerintah sesuai kebutuhan di lapangan.



Tenda khusus ruang operasi di RS Lapangan NTT. Foto: dok. Kemenkes.


Dari sisi ketersediaan obat, Kemenkes menyatakan stok obat-obatan untuk kebutuhan lima hari ke depan masih mencukupi. Pemerintah pusat juga menyiapkan tambahan obat jika kebutuhan di daerah terdampak meningkat.

Sementara itu, Kemenkes telah melakukan penilaian terhadap kondisi bangunan sejumlah fasilitas kesehatan yang terdampak gempa. Salah satunya Rumah Sakit Komodo.

Setelah hasil penilaian menyatakan bangunan rumah sakit aman, pasien Rumah Sakit Komodo kembali menempati ruang perawatan.

"Sudah dicabut dan mengeluarkan hasilnya, hasil terhadap penilaian bangunan, khususnya di Rumah Sakit Komodo, dan hari ini, ya, alhamdulillah semuanya, pasien sudah masuk kembali ke ruangan-ruangan di Rumah Sakit Komodo," ujar Samarjaya.

Kemenkes terus memperkuat pelayanan kesehatan pascagempa melalui fasilitas kesehatan yang masih berfungsi, rumah sakit lapangan, mobilisasi tenaga medis, serta mekanisme rujukan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak tetap memperoleh pelayanan medis di tengah kerusakan sejumlah fasilitas kesehatan akibat gempa.

(Whisnu M)