Ilustrasi pemantauan gempa NTT. Foto: BRIN
Gempa Flores 2026 dan 1992 Mirip? Peneliti BRIN Ungkap Perbedaannya
Muhamad Marup • 23 August 2026 10:28
Jakarta: Gempa bumi yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu kerap disamakan dengan gempa 1992 di wilayah yang sama. Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widjo Kongko, mengungkap beberapa perbedaan dari kedua gempa tersebut.
"Peristiwa tersebut segera mengingatkan kita pada gempa Flores 12 Desember 1992," ujar Widjo, dalam keterangan resminya, dikutip dari laman BRIN, Minggu, 23 Agustus 2026.
Ia menyebut perbedaan yang tampak adalah dari munculnya tsunami. Kedua gempa tersebut memiliki magnitudo hampir sama, namun menghasilkan tsunami yang berbeda.
Gempa 2026 memiliki magnitudo 7,7, sedangkan gempa 1992 7,7-7,8. Meski begitu, gempa 1992 juga diiringi tsunami yang sangat destruktif.
"Di Riangkroko, ujung timur laut Flores, tercatat run-up hingga 26,2 meter dan menimbulkan ribuan korban jiwa," jelasnya.
Penyebab Tsunami
Widjo mengungkapkan, gempa di flores menunjukkan bahwa kekuatan gempa tidak selalu disertai tsunami yang besar. Penyebab utama tsunami yaitu dasar laut bergerak ketika patahan mengalami ruptur."Tsunami terjadi ketika perpindahan dasar laut mengganggu kolom air di atasnya. Karena itu, lokasi sumber, mekanisme patahan, arah dan besarnya slip, kedalaman, serta bentuk dasar laut dan pantai ikut menentukan besar kecilnya tsunami," katanya.
Ia menyebut, Flores berada pada sistem Flores Back-Arc Thrust, zona tektonik aktif akibat interaksi Lempeng Australia dan Eurasia. Gempa 1992 terjadi sangat dekat dengan pantai dan menghasilkan deformasi dasar laut yang efektif membangkitkan tsunami.
Foto dampak gempa bumi Flores 1992. (Dok. BNPB)
Ia menemukan hal menarik. Model tsunami yang hanya menggunakan deformasi akibat patahan dapat menjelaskan banyak hasil pengamatan, tetapi tidak mampu mereproduksi run-up ekstrem 26,2 meter di Riangkroko."Dengan demikian, angka 26,2 meter di Riangkroko tidak seharusnya dianggap semata-mata sebagai akibat langsung dari magnitudo gempa,” terangnya.
Gempa tahun 2026 meskipun magnitudonya kembali mencapai 7,7, hasil pemodelan awal menunjukkan tsunami yang ditimbulkan relatif kecil. Pemodelan sumber gempa ini menggunakan finite-fault model dari United States Geological Survey (USGS), yaitu model yang menggambarkan sumber gempa dan bidang sesarnya secara lebih rinci.
Selanjutnya, perambatan gelombang tsunami dimodelkan menggunakan Model TUN3-BRIN untuk melihat bagaimana tsunami menjalar dari sumber gempa menuju wilayah pantai. Namun, di beberapa lokasi, tinggi tsunami yang teramati masih lebih besar daripada hasil simulasi.
"Perbedaan ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, terutama setelah data sumber gempa, batimetri (kedalaman laut), dan rekaman perubahan muka laut semakin lengkap," ucapnya.
Hati-Hati Membandingkan
Widjo menegaskan, perlu hati-hati membandingkan angka tsunami kedua kejadian. 26,2 meter pada 1992 adalah run-up yang diukur di daratan, sedangkan sekitar 1,6 meter pada 2026 merupakan tinggi tsunami yang terukur pada lokasi pemantauan."Keduanya bukan besaran yang persis sama. Namun, perbedaannya tetap memperlihatkan bahwa respons tsunami kedua kejadian memang sangat berbeda,” tambahnya.
Ia menekankan, pelajaran terpenting dari Flores bukan bahwa ancaman tsunami telah berkurang. Sebaliknya, gempa 2026 kembali menunjukkan bahwa sistem Flores Back-Arc Thrust masih aktif dan mampu menghasilkan gempa besar.
Sejarah 1992 juga menunjukkan bahwa tsunami lokal dapat mencapai pantai hanya dalam beberapa menit. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat pesisir tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu. Karena itu, setelah merasakan gempa kuat atau guncangan yang berlangsung cukup lama di wilayah pantai, tindakan paling aman adalah segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu datangnya sirene.
"Gempa Flores 1992 dan 2026 memberikan pelajaran yang sederhana tetapi penting. Magnitudo yang hampir sama tidak berarti ancaman tsunaminya sama. Yang menentukan adalah bagaimana gempa menggerakkan dasar laut, bagaimana gelombang merambat, dan bagaimana pantai meresponsnya. Memahami proses tersebut adalah bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana di NTT," tutupnya.