Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Sangat Tidak Sehat

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Rasio Ridho Sani.

Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Sangat Tidak Sehat

Hendrik Simorangkir • 2 July 2026 19:18

Tangerang: Kementerian Lingkungan Hidup mengerahkan mobil alat monitoring udara di lokasi kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang. Hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara di lokasi kebakaran berada dalam kondisi tidak sehat.

"Udara menunjukkan pada kondisi yang sangat tidak sehat. Untuk itu kami harapkan warga bisa menggunakan masker, sebagai pelindung untuk mengatasi dampak-dampak kesehatannya," ujar Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani, di lokasi kebakaran TPA Jatiwaringin, Kamis, 2 Juli 2026.

Rasio menuturkan, kondisi tidak sehat itu berdasarkan data kandungan udara yang menunjukkan tingkat particulate matter (PM) 2.5 mencapai 1.000, sementara baku mutu yang seharusnya 55. Selain itu, pihaknya juga mengukur parameter nitrogen oksida dan sulfur oksida yang timbul akibat kebakaran timbunan sampah di TPA Jatiwaringin.

"Selain itu PM 10 seharusnya 75 baku mutunya saat dicek 750. Partikulatnya SOx, NOx karena juga di sini yang terbakar di antaranya ada plastik dan sebagainya. Itu sangat tinggi dan tidak sehat, yang tentu saja berdampak ke kesehatan masyarakat," jelas Rasio.

 



Menurut Rasio, kebakaran di TPA Jatiwaringin menunjukkan tingkat gas metan yang sangat tinggi dan berbahaya. "Ada biomassanya, ada gas metannya, tapi juga kan ada plastik dan sebagainya. Jadi tidak mudah penanganan ini," kata Rasio.

Rasio meminta seluruh pengelola dan penanggung jawab TPA di seluruh Indonesia agar memastikan pengelolaannya berjalan dengan baik, sehingga saat terjadi cuaca ekstrem dapat menurunkan risiko kebakaran di setiap TPA.

Rasio mengimbau masyarakat yang tidak memiliki kepentingan untuk tidak mendekati lokasi kebakaran karena akan sangat berdampak pada kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut.

"Kami sampaikan tentu pada masyarakat yang berada di lokasi sekitar sini agar tetap menggunakan alat pelindung diri, termasuk menggunakan masker agar dampak pada kesehatan mereka bisa tertangani. Ini langkah-langkah kita sekarang," ungkap Rasio.



Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Istimewa


90 Warga Periksa Kesehatan, ISPA dan Hipertensi Mendominasi

Memasuki hari ketiga kebakaran, warga terdampak paparan asap menjalani pemeriksaan kesehatan di posko kesehatan. Sedikitnya 90 warga telah menjalani pemeriksaan. Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian besar warga yang datang merupakan perempuan dan lanjut usia. Mereka mengeluhkan kondisi kesehatan setelah selama tiga hari terpapar asap kebakaran.

Kepala Puskesmas Sukadiri, dr Dicky Soegiharto, mengungkapkan sejak posko dibuka, keluhan paling banyak ditemukan yakni hipertensi pada warga lanjut usia yang diduga dipicu kurangnya waktu istirahat akibat dampak kebakaran.

"Sejak posko dibuka, keluhan yang paling banyak ditemukan yakni hipertensi pada warga lanjut usia, yang diduga dipicu kurangnya waktu istirahat akibat dampak kebakaran," ujar Dicky Soegiharto.

Dicky menuturkan, pihaknya menyiagakan tenaga kesehatan dua kali setiap hari, yakni pagi dan sore, serta ambulans yang siap siaga 24 jam. Setelah menjalani pemeriksaan, warga juga mendapatkan obat-obatan sesuai keluhan masing-masing.

Kepala Desa Gintung, Kecamatan Sukadiri, Amsuri, mengatakan posko kesehatan didirikan untuk memantau kondisi warga yang terdampak asap. Sebagian warga mengalami gejala ISPA. 

"Sebagian warga mengalami gejala infeksi saluran pernapasan atau ISPA. Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut apabila ditemukan warga dengan kondisi yang memburuk," jelas Amsuri.

Pemerintah desa telah membagikan masker kepada warga sebagai upaya mengurangi risiko paparan asap kebakaran. Hingga kini, petugas gabungan masih terus berupaya memadamkan api di TPA Jatiwaringin. Dua helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana diterjunkan untuk melakukan pemadaman melalui udara di sejumlah titik api.

(Whisnu M)