Rahasia Napas Bumi: Mengapa Samudra adalah Paru-Paru Dunia yang Sesungguhnya

Ilmuwan mengungkap samudra menyumbang hingga 80 persen oksigen Bumi, terutama dari fitoplankton dan bakteri Prochlorococcus. (Unsplash)

Rahasia Napas Bumi: Mengapa Samudra adalah Paru-Paru Dunia yang Sesungguhnya

Willy Haryono • 3 January 2026 21:07

Jakarta: Selama ini, hutan hujan tropis seperti Amazon kerap disebut sebagai “paru-paru dunia." Julukan tersebut menanamkan anggapan bahwa sebagian besar oksigen yang kita hirup berasal dari pepohonan di daratan. Namun, temuan ilmiah dari berbagai lembaga sains internasional menunjukkan fakta yang berbeda. Sumber utama oksigen di Bumi justru berasal dari samudra.

Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lautan menyumbang sekitar 50 hingga 80 persen oksigen di atmosfer Bumi. Kontribusi ini melampaui seluruh hutan dan vegetasi darat jika digabungkan. Oksigen tersebut dihasilkan oleh organisme mikroskopis yang hidup di lapisan atas laut, yang dikenal sebagai fitoplankton.

Meski ukurannya sangat kecil dan tidak kasat mata, fitoplankton berfungsi layaknya pabrik oksigen raksasa. Melalui fotosintesis, organisme ini menyerap karbon dioksida dan memanfaatkan sinar matahari untuk menghasilkan oksigen. Salah satu organisme paling penting dalam proses ini adalah Prochlorococcus, bakteri laut fotosintetik terkecil di dunia.

Para ilmuwan mencatat bahwa sekitar satu dari setiap lima napas manusia dihasilkan oleh Prochlorococcus. Dengan kata lain, satu spesies mikroorganisme ini menghasilkan oksigen lebih banyak dibandingkan gabungan seluruh hutan hujan tropis di daratan. Temuan ini menjadikan laut sebagai komponen kunci dalam sistem kehidupan global.

Selain fitoplankton, alga dan rumput laut juga berkontribusi terhadap produksi oksigen dunia. Berbeda dengan hutan darat yang sebagian besar oksigen hasil fotosintesisnya kembali dikonsumsi oleh respirasi tumbuhan dan organisme lain, laut melepaskan oksigen dalam jumlah besar ke atmosfer. Gas tersebut kemudian tersebar ke seluruh penjuru planet melalui sirkulasi udara global.

Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas udara yang dihirup manusia—termasuk di kota-kota besar—sangat bergantung pada kesehatan ekosistem laut. Polusi plastik, pencemaran kimia, dan pemanasan global yang meningkatkan suhu laut berpotensi mengganggu populasi fitoplankton dan menurunkan kemampuan laut menghasilkan oksigen.

Karena itu, konservasi laut tidak hanya berkaitan dengan perlindungan ikan, terumbu karang, atau keanekaragaman hayati. Menjaga samudra berarti menjaga sistem pernapasan planet. Laut merupakan bagian fundamental dari penopang kehidupan di Bumi, dan masa depan kualitas udara global sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistemnya. (Keysa Qanita)

Baca juga:  Ini 5 Laut Terdalam di Dunia, Salah Satunya Ada di Indonesia

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)