Komunitas Edan Sepur, dari Pecinta Kereta hingga Garda Terdepan Edukasi Keselamatan

Gathering Komunitas Edan Sepur. Foto: Dok. Komunitas Edan Sepur Jakarta.

Komunitas Edan Sepur, dari Pecinta Kereta hingga Garda Terdepan Edukasi Keselamatan

Metro TV • 16 September 2026 18:16

Jakarta: Di sejumlah ruas rel kereta api, kerap ditemui berbagai kalangan yang mengabadikan foto kereta. Hal itu bukan sekadar iseng semata, melainkan memiliki kecintaan tersendiri terhadap moda transportasi kereta api. Kegandrungan pada kereta api ini melahirkan komunitas di berbagai wilayah, salah satunya Komunitas Edan Sepur Jakarta

Komunitas ini berawal dari sekelompok muda-mudi yang gemar menelusuri jalur rel mati hingga di Jatinegara, Jakarta Timur. Akhirnya mereka memutuskan mendirikan Edan Sepur pada 5 Juli 2009. Kini, Edan Sepur sudah mengakar di tiga wilayah berbeda, yaitu di Jakarta, Bandung, dan Cirebon. 

Awalnya, komunitas ini hanya berfokus sebagai wadah berkumpulnya orang-orang yang gemar dengan kereta api. Mulai dari mereka yang suka menaiki kereta sampai hobi mengabadikan gambar kereta. 

“Kita itu awalnya dibentuk karena hobi, sebenarnya kita itu komunitas hobi karena pendiri-pendiri kita itu ada yang suka menelusuri jalur mati, ada yang juga suka joyride atau suka naik kereta, ada yang juga suka foto kereta,” kata Koordinator Komunitas Edan Sepur Jakarta, Jowar Alyas Dwisa, kepada Metrotvnews.com di Stasiun Jakarta Kota, Rabu, 16 September 2026.

Seiring waktu, keresahan terhadap keselamatan masyarakat baik di dalam kereta maupun di perlintasan mulai menjadi fokus komunitas. Terutama saat belum ada pembenahan sistem perkeretaapian seperti saat sekarang.

Namun, setelah kondisi penumpang dan pedagang dalam kereta ditertibkan, Edan Sepur menggeser fokus juga pada keselamatan warga sekitar perlintasan. 

“Kita awalnya itu pengen mendisiplinkan penumpang kereta awalnya, karena masih banyak yang melanggar seperti tidak bertiket, tidak duduk di tempat semestinya atau bahkan naik ke atap. Karena sudah rapi di sisi penumpang, kita mulai disitu kan di pengendaraan dan juga warga sekitar,” ungkap Jowar.

Dari sana, mulai banyak agenda yang ditujukan kepada masyarakat. Beberapa di antaranya mengenai edukasi keselamatan di perlintasan kereta api, kampanye anti kekerasan seksual di kereta api, dan relawan KAI saat arus mudik lebaran atau natal dan tahun baru (nataru).

Jowar mengungkapkan rutinitas agenda yang membuat komunitas tetap bertahan setidaknya selama 17 tahun sejauh ini. Misalnya dia mencontohkan kegiatan edukasi keselamatan melintas di rel kereta api yang rutin digelar sebulan sekali.

“Kita rutin satu bulan sekali bersama operator yaitu PT KAI Commuter. Kita setiap 1 bulan sekali itu keliling di Wilayah Jakarta Raya. Misalnya nanti rencananya di bulan ini ada di Gang Sentiong. Kalau bulan Agustus kemarin kita sudah laksanakan di Kranji,” kata Jowar

Komunitas Edan Sepur melakukan sosialisasi keselamatan kereta api. Foto: Dok. Komunitas Edan Sepur Jakarta.

Selain edukasi keselamatan di perlintasan kereta api, kampanye antikekerasan juga menjadi kegiatan yang pernah digelar. Hal ini didorong masih adanya temuan pelecehan seksual di kereta api, sementara banyak korban masih ragu untuk melapor.

“Kadang korban pelecehan seksual di stasiun-stasiun itu tidak berani untuk melapor karena adanya ketakutan atau tidak ada perlindungan hukum. Sebenarnya dari pihak operator mendampingi hingga pihak wajib, namun tergantung dari pihak korban,” terang Jowar.

Meski kerap terjun di masyarakat, komunitas pecinta kereta api seperti Edan Sepur tak jarang dipandang sebelah mata. Bagi sebagian masyarakat awam, kecintaan pada moda transportasi seperti kereta api sering dianggap tak biasa.

“(Dianggap) aneh ya? Banyak lah, banyak. Nah justru kita itu pengen bangun citra bahwa railfans itu bisa bermanfaat, bisa dilihat dari sisi positif lah ya. Karena kadang kan kalau kita railfans kan unik-unik orangnya gitu, kadang ada kereta dia bahkan lari-larian buat mengejar,” kata anggota Komunitas Edan Sepur, Syahid.

Meski begitu, Syahid menuturkan misi komunitas yang kuat. Yakni sebagai kepanjangan tangan dari PT KAI, terutama dalam mengedukasi masyarakat terkait keselamatan di sepanjang jalur kereta api.

“Kita komunitas sebenarnya juga sebagai penyambung lidah dari KAI kali ya, membantu sosialisasikan, edukasi,” ujarnya.

(Afifah Alfina)

(Anggi Tondi)