Muak Marak Korupsi, Demo Gen Z Tumbangkan Pemerintahan Bulgaria

Demo anti-korupsi Bulgaria, 10 Desember 2025. (EFE-EPA/BORISLAV TROSHEV)

Muak Marak Korupsi, Demo Gen Z Tumbangkan Pemerintahan Bulgaria

Riza Aslam Khaeron • 15 December 2025 17:03

Sofia: Gelombang demonstrasi yang dipimpin Generasi Z di Bulgaria berujung pada runtuhnya pemerintahan koalisi negara itu.

Melansir The Wall Street Journal (WSJ), kabinet pro-Uni Eropa Bulgaria tumbang pada Kamis, 11 Desember 2025 setelah rangkaian aksi jalanan anak muda memprotes korupsi yang mengakar, praktik self-dealing elite, dan kesan bahwa para penguasa terputus dari kesulitan warga biasa.

Puluhan ribu warga Bulgaria memenuhi alun-alun pusat Sofia pada Rabu malam, 10 Desember 2025. Ini menjadi bagian dari serangkaian demonstrasi di ibu kota dan kota-kota lain selama beberapa pekan. Aksi-aksi itu banyak digerakkan lewat TikTok dan platform media sosial lain, dengan poster bertuliskan Gen Z is coming dan Gen Z vs. Corruption.

Di depan gedung parlemen, sebuah layar besar memutar video dan meme yang mengejek politisi.


PM Bulgaria Rosen Zhelyazkov. (Dok. European Parliament)

Tak lama, Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov mengundurkan diri. Padahal, Zhelyazkov baru menjabat sejak Januari 2025. Dalam pidatonya, Zhelyazkov mengutip pepatah Latin; "Vox populi, vox dei," ujar Zhelyazkov dikutip dari WSJ.

"Kita harus menjawab tuntutan mereka. Dan tuntutan mereka adalah pengunduran diri pemerintah," jelas Zhelyazkov.

Runtuhnya kabinet ini terjadi hanya beberapa pekan sebelum Bulgaria dijadwalkan bergabung dengan kawasan euro pada 1 Januari 2026. Meski demikian, rencana pergantian mata uang tetap berjalan. Krisis ini memperpanjang ketidakstabilan politik yang telah menyebabkan tujuh kali pemilu parlemen dalam empat tahun terakhir. 

Salah satu pemicu langsung protes adalah rencana anggaran 2026 yang memuat usulan peningkatan belanja. Para pedemo menilai langkah tersebut berpotensi makin mengokohkan kontrol politikus yang korup.
 

Baca Juga:
Tuntut Anti-Korupsi, Ribuan Warga Bulgaria Demo di Depan Parlemen

Isu korupsi memang telah lama menjadi bergulir di Bulgaria. Meski telah bergabung dengan Uni Eropa sejak 2007, negara Balkan berpenduduk sekitar 6,5 juta jiwa ini konsisten masuk dalam jajaran negara paling korup di Uni Eropa menurut Transparency International.

Beberapa tahun terakhir, Bulgaria gagal mengamankan vonis tingkat tinggi dalam perkara korupsi. Kondisi ini memicu kemarahan publik dan kerap mengundang kritik dari Brussel mengenai lemahnya penegakan hukum.


Demonstran kibarkan bendera One Piece. (Istimewa)

Keluhan para demonstran tidak hanya menyasar impunitas elite. Isunya meluas hingga kualitas layanan kesehatan dan minimnya pekerjaan bergaji layak. Banyak demonstran yang baru pertama kali terlibat aksi besar. Generasi Z Bulgaria tumbuh tanpa pengalaman langsung hidup di era komunis yang berakhir pada 1989 maupun krisis ekonomi berat setelahnya.

"Protes ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki energi sipil yang cukup untuk melawan arogansi elite yang mengakar," sebut Direktur Program Geoekonomi di Center for the Study of Democracy, Martin Vladimirov, di Sofia.

Bagi sebagian peserta, demonstrasi ini adalah pernyataan generasi. Mereka menolak standar politik yang dianggap membiarkan korupsi tanpa konsekuensi. 

"Ada satu generasi penuh seperti saya. Kami hanya tidak ingin negara ini seperti ini," kata manajer proyek di industri TI di Sofia yang pernah menempuh studi di Inggris, Angel Ignatov.

Pengunduran diri kabinet Zhelyazkov berpotensi memicu pemilu cepat dalam beberapa bulan ke depan dan bisa mengubah arah politik Bulgaria.

Presiden Rumen Radev, kepala negara yang disebut sebagai politikus paling populer, berpotensi menjadi tokoh yang diuntungkan. Ia diperkirakan akan membentuk partainya sendiri dan maju dalam pemilu mendatang. Radev, mantan pilot AU, kerap mengkritik dukungan Barat untuk Ukraina dan sempat menyebut prospek Kyiv 'tidak memiliki harapan' awal tahun ini.

Melansir WSJ, Bulgaria kini menjadi titik panas terbaru dari gelombang keresahan Generasi Z global.

Di luar Eropa, protes anak muda disebut menjatuhkan pemerintahan di Nepal dan Madagaskar. Fenomena ini sempat memicu unjuk rasa besar di Indonesia dan Filipina, serta aksi kekerasan di Tanzania.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)