Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu
Trump Berharap Konflik dengan Iran Tak Berujung Aksi Militer
Muhammad Reyhansyah • 30 January 2026 16:39
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis, 29 Januari 2026 menyatakan harapannya agar tidak perlu mengambil tindakan militer terhadap Iran, meskipun Teheran telah mengancam akan menyerang pangkalan dan kapal induk AS jika terjadi serangan.
Trump mengatakan dirinya sedang berkomunikasi dengan Iran dan membuka kemungkinan menghindari operasi militer, setelah sebelumnya memperingatkan bahwa waktu “kian menipis” bagi Teheran seiring pengerahan armada laut besar AS ke kawasan tersebut.
Ketika ditanya apakah ia akan melakukan perundingan dengan Iran, Trump menjawab kepada wartawan, “Saya sudah melakukannya dan saya memang berencana melakukannya.”
Baca Juga :
Opsi Balasan Iran Jika Perang dengan AS Pecah
“Kami punya satu kelompok yang sedang bergerak menuju sebuah tempat bernama Iran, dan mudah-mudahan kami tidak perlu menggunakannya,” kata Trump kepada media saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya, Melania.
Di tengah meningkatnya retorika antara Brussel dan Washington serta ancaman keras dari Iran pekan ini, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan dimulainya perundingan nuklir guna “menghindari krisis yang dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan di kawasan.”
Iran Peringatkan Dampak Serangan AS
Dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 30 Januari 2026, seorang juru bicara militer Iran memperingatkan bahwa respons Teheran terhadap tindakan apa pun dari Amerika Serikat tidak akan terbatas, berbeda dengan insiden pada Juni tahun lalu ketika pesawat dan rudal AS sempat bergabung dalam perang udara singkat Israel melawan Iran.Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa kapal induk AS memiliki “kerentanan serius” dan bahwa banyak pangkalan Amerika di kawasan Teluk berada “dalam jangkauan rudal jarak menengah kami.”
“Jika kesalahan perhitungan itu dilakukan oleh pihak Amerika, hasilnya jelas tidak akan berjalan seperti yang dibayangkan Trump, melakukan operasi cepat lalu dua jam kemudian menulis di media sosial bahwa operasi telah selesai,” ujarnya.
Seorang pejabat di kawasan Teluk, tempat sejumlah negara menjadi tuan rumah fasilitas militer AS, mengatakan kepada AFP bahwa kekhawatiran akan serangan Amerika terhadap Iran “sangat nyata.”
“Hal itu akan membawa kawasan ke dalam kekacauan, merusak ekonomi bukan hanya di wilayah ini tetapi juga di Amerika Serikat, serta membuat harga minyak dan gas melonjak tajam,” katanya.
Tekanan Global Perkeruh Situasi Iran
Pemimpin Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan pembicaraan via telepon untuk membahas “upaya-upaya meredakan ketegangan dan menciptakan stabilitas,” lapor Kantor Berita Qatar (QNA).Sementara itu, Uni Eropa meningkatkan tekanan dengan menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai “organisasi teroris” menyusul tindakan keras berdarah terhadap gelombang protes massal baru-baru ini.
“‘Teroris’ memang sebutan yang tepat bagi sebuah rezim yang menghancurkan protes rakyatnya sendiri dengan darah,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, seraya menyambut keputusan yang ia sebut “terlambat” tersebut.
Meski dinilai sebagian besar bersifat simbolis, keputusan Uni Eropa itu telah memicu peringatan dari Teheran. Militer Iran mengecam apa yang disebutnya sebagai tindakan Uni Eropa yang “tidak logis, tidak bertanggung jawab, dan didorong oleh dendam,” dengan menuding blok tersebut bertindak atas “kepatuhan” kepada Amerika Serikat dan Israel.
Pejabat Iran menuding dua negara itu berada di balik gelombang protes, dengan klaim bahwa agen mereka memicu “kerusuhan” dan “operasi teroris” yang membajak aksi damai yang awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi.
Kelompok-kelompok HAM menyebut ribuan orang tewas akibat tindakan aparat keamanan, termasuk IRGC. Di Teheran, sejumlah warga menyuarakan pesimisme.
“Saya pikir perang tidak terelakkan, dan perubahan harus terjadi. Bisa menjadi lebih buruk atau lebih baik. Saya tidak tahu,” ujar seorang pramusaji berusia 29 tahun yang berbicara dengan syarat anonim.
“Saya tidak mendukung perang. Saya hanya ingin sesuatu terjadi yang menghasilkan keadaan yang lebih baik,” tambahnya.
Data Korban Protes Bertolak Belakang
Lembaga berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyatakan telah mengonfirmasi 6.479 kematian akibat protes, meski pembatasan internet sejak 8 Januari memperlambat proses verifikasi. Kelompok HAM memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, mencapai puluhan ribu.Pemerintah Iran mengakui ribuan orang tewas, dengan angka lebih dari 3.000 korban, namun menyebut sebagian besar merupakan aparat keamanan atau warga yang tewas akibat ulah “perusuh.”
Di ibu kota Teheran, papan reklame dan spanduk bermunculan untuk memperkuat pesan pemerintah, termasuk satu poster besar yang tampak menggambarkan hancurnya sebuah kapal induk Amerika Serikat.