Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu. Foto: dok BTN.
BTN Pasang Target Laba 22% pada 2026, Ini Strateginya
Ade Hapsari Lestarini • 26 January 2026 15:31
Jakarta: PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) atau BBTN menargetkan laba bersih tumbuh 20 sampai 22 persen year on year (yoy) pada 2026.
Direktur Utama (Dirut) BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan penyaluran kredit perseroan ditargetkan tumbuh 8-9 persen (yoy) pada 2026, dengan non performing loan (NPL) berada di bawah tiga persen.
"Kita merencanakan sampai tahun depan, loan growth mungkin masih 8-9 persen, tapi ini OJK terus terang minta dinaikkan, karena 12 (persen) tahun lalu. Kemudian, net profit kita masih berani tulis 20-22 persen, karena memang masalah-masalah kredit masa lalunya sudah selesai. Jadi sudah bersih," ujar Nixon dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Dirut BTN dan Dirut BNI di Kompleks DPR RI, Jakarta, dilansir Antara, Senin, 26 Januari 2026.
Kemudian, BTN menargetkan pertumbuhan deposit sebesar 7-8 persen pada tahun ini, dengan biaya dana atau cost of fund berada di level 3,6 persen, serta beban kredit di kisaran 1-1,2 persen.
"Kemudian cost of fund-nya juga kita turunkan di bawah 3,6 persen. Cost of credit-nya bisa naik sedikit jadi 1-1,2 persen, dan NPL pertama kali nanti kita di bawah tiga persen," ujar Nixon.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Khairunnisa Puteri M.
Laba bersih BTN di 2025 tercatat Rp2,91 triliun
Pada 2025 hingga periode November, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp2,91 triliun, atau tumbuh 21,10 persen (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp2,40 triliun.
Pertumbuhan laba bersih perseroan ditopang oleh kredit dan pembiayaan yang disalurkan senilai Rp386,47 triliun hingga 30 November 2025, atau naik 8,74 persen (yoy) dari sebelumnya Rp355,42 triliun.
Perseroan membukukan pertumbuhan DPK seiring dengan upaya perseroan meningkatkan pendanaan terutama dana murah atau current account and saving account (CASA). Per November 2025, DPK perseroan meningkat 15,77 persen (yoy) menjadi Rp423,96 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp366,22 triliun.