Wakil Ketua Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kadin Indonesia, Shinta Kamdani. Dok. Istimewa
Buka Keran Investasi, Kadin bakal Hubungkan Perusahaan China dengan Pelaku Usaha Indonesia
Achmad Zulfikar Fazli • 31 January 2026 08:27
Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bakal menghubungkan perusahaan-perusahaan China dengan pelaku usaha dan asosiasi di Indonesia dari berbagai sektor, mulai dari manufaktur, digital, hingga ekonomi hijau. Tujuannya, untuk dapat meningkatkan arus investasi langsung asing.
“Indonesia dan China sudah punya hubungan ekonomi yang erat. Tantangannya sekarang adalah memperluas kemitraan di level perusahaan, terutama melalui business matching dan misi dagang-investasi,” kata Wakil Ketua Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kadin Indonesia, Shinta Kamdani, dalam keterangannya, dikutip pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Shinta mengatakan puluhan perusahaan asal China dijadwalkan datang ke Indonesia untuk menjajaki peluang kerja sama bisnis melalui ajang “China Conference: Southeast Asia 2026” yang digelar di Jakarta pada 10 Februari 2026. Konferensi akan dihadiri lebih dari 30 perusahaan asal China.
“Kesempatan ini sangat strategis karena konferensi berlangsung berdekatan dengan agenda APEC Business Advisory Council (ABAC) yang digelar di Jakarta pada 7–9 Februari. Banyak CEO tingkat tinggi dari negara-negara APEC, termasuk China dan Hong Kong, berada di Indonesia,” ujar Shinta.
Shinta menilai konferensi ini dapat memperkuat hubungan ekonomi bilateral yang selama ini telah terbangun di tingkat pemerintah, dengan memperluas kolaborasi langsung antarpelaku usaha. Menurut dia, peran dunia usaha menjadi krusial untuk mengonversi kedekatan diplomatik menjadi realisasi perdagangan dan investasi.
Baca Juga:
Dari AI hingga Bioekonomi, IES 2026 Akan Bahas Arah Baru Ekonomi Indonesia |
Sementara itu, Chief Development Officer South China Morning Post (SCMP), Eugene Tang, mengatakan mayoritas perusahaan China yang akan hadir merupakan investor potensial. Mereka berada pada tahap eksplorasi pasar Indonesia.
Dia menambahkan perusahaan yang hadir juga bakal mempelajari ukuran pasar, potensi pertumbuhan, serta lanskap regulasi dan perpajakan.
“Perusahaan-perusahaan besar seperti Huawei, BYD, dan OPPO sudah lama beroperasi di Indonesia. Yang datang kali ini adalah perusahaan lapis berikutnya yang tertarik masuk, tetapi ingin memahami lebih dalam iklim bisnis Indonesia,” kata Eugene.
Dia mengungkapkan perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor bisnis. Dia menilai Indonesia adalah pasar besar dengan populasi yang kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
“Mereka ingin mengetahui bagaimana iklim investasi di Indonesia, bagaimana struktur pajak, dan bagaimana peluang bermitra dengan perusahaan lokal,” ujar Eugene.