Dari AI hingga Bioekonomi, IES 2026 Akan Bahas Arah Baru Ekonomi Indonesia

IES 2026 akan membahas evaluasi model pertumbuhan ekonomi, produktivitas, investasi, dan transformasi digital Indonesia. (Metrotvnews.com)

Dari AI hingga Bioekonomi, IES 2026 Akan Bahas Arah Baru Ekonomi Indonesia

Willy Haryono • 26 January 2026 15:02

Jakarta: Model pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai perlu dievaluasi di tengah dinamika global yang semakin volatil, termasuk dampak disrupsi teknologi terhadap struktur ekonomi dan pasar tenaga kerja.

Hal tersebut akan menjadi salah satu fokus utama dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang digelar oleh Indonesian Business Council (IBC) pada 3–4 Februari 2026.

Direktur Utama IBC, Sofyan A. Djalil, menilai Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan lama dalam merumuskan strategi pertumbuhan ekonomi, terutama menghadapi perkembangan teknologi seperti otomatisasi dan robotika.

“Dalam dunia yang berubah sangat cepat, pendekatan lama sudah tidak relevan. Forum ini akan membahas model pertumbuhan ekonomi yang lebih sesuai untuk Indonesia dengan mempertimbangkan realitas baru,” ujar Sofyan.

Selain model pertumbuhan, isu produktivitas dan penciptaan nilai tambah juga menjadi salah satu fokus utama diskusi. Menurut Sofyan, peningkatan produktivitas menjadi prasyarat utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Kunci kemajuan sebuah bangsa adalah produktivitas, yaitu kemampuan menciptakan nilai tambah setiap hari. Tanpa itu, target pertumbuhan ekonomi tinggi sulit dicapai secara berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, menyatakan bahwa strategi menarik investasi global harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni kepastian hukum, kualitas sumber daya manusia, dan ketersediaan modal.

“Investasi akan datang jika ada kepastian hukum, kemudian capability atau kualitas sumber daya manusia yang sesuai dengan perkembangan teknologi,” ujar Arsjad.

IES 2026 juga akan mengangkat isu transformasi digital, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), melalui sesi khusus bertajuk The CEO Guide for AI Transformation. Diskusi tersebut mencakup aspek pemanfaatan teknologi, etika, serta perlindungan data pribadi.

Arsjad menilai AI tidak dapat dihindari dan harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor ekonomi.

Di sektor keberlanjutan, Direktur Operasional IBC, William Sabandar, menyoroti potensi bioekonomi Indonesia yang dinilai belum tergarap optimal. Saat ini, pemanfaatan kapasitas bioekonomi nasional baru mencapai sekitar 17 persen.

Forum ini juga akan membahas pemerataan pembangunan melalui inisiatif seperti Indonesia City Investment Accelerator, yang bertujuan mendorong transformasi kota menjadi proyek investasi nyata.

Selain itu, isu pertumbuhan inklusif akan difokuskan pada pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan ekonomi serta penguatan peran generasi muda sebagai motor pertumbuhan masa depan.

Dalam agenda industrialisasi, Arsjad menegaskan pentingnya penguatan sektor industri sebagai sumber penciptaan lapangan kerja dan daya saing nasional.

“Kita harus melihat apa keunggulan kompetitif Indonesia. Tujuannya bukan hanya menjadi negara berkembang, tetapi negara maju,” ujarnya.

Melalui penguatan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan strategi hilirisasi, IES 2026 diharapkan mampu merumuskan langkah konkret menuju visi Indonesia Emas 2045. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Indonesia Economic Summit 2026 Akan Hadirkan Deretan Menteri hingga Tokoh Global

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)