Peraih Nobel Perdamaian asal Iran, Narges Mohammadi. (EPA-EFE)
Iran Tambah Vonis Penjara terhadap Peraih Nobel Narges Mohammadi
Muhammad Reyhansyah • 9 February 2026 15:14
Teheran: Pengadilan Iran menjatuhkan hukuman lebih dari tujuh tahun penjara tambahan kepada peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi, tak lama setelah ia melakukan aksi mogok makan, demikian disampaikan para pendukungnya pada Minggu, 8 Februari 2026.
Putusan itu muncul di tengah pengetatan tindakan terhadap segala bentuk pembangkangan menyusul gelombang protes nasional dan kematian ribuan orang akibat tindakan aparat keamanan.
Para pendukung mengutip keterangan pengacara Mohammadi, Mostafa Nili, yang mengonfirmasi vonis tersebut melalui X. Ia menyatakan hukuman dijatuhkan pada Sabtu oleh Pengadilan Revolusioner di kota Mashhad, lembaga yang dikenal kerap mengeluarkan putusan dengan ruang pembelaan yang sangat terbatas bagi terdakwa.
“Dia dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas tuduhan ‘berkumpul dan bersekongkol’ serta satu setengah tahun karena propaganda, ditambah larangan bepergian selama dua tahun,” tulis Nili, dikutip dari CNN, Senin, 9 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa Mohammadi juga dijatuhi hukuman dua tahun pengasingan internal ke kota Khosf, sekitar 740 kilometer di tenggara Teheran.
Pemerintah Iran belum memberikan pengakuan resmi terkait putusan tersebut. Para pendukung menyebut Mohammadi telah melakukan mogok makan sejak 2 Februari dan mengakhirinya pada Minggu setelah vonis dijatuhkan, seiring memburuknya kondisi kesehatannya.
Mohammadi ditangkap pada Desember saat menghadiri sebuah acara penghormatan bagi Khosrow Alikordi, pengacara dan aktivis HAM berusia 46 tahun yang berbasis di Mashhad. Rekaman dari aksi tersebut memperlihatkan Mohammadi berteriak menuntut keadilan bagi Alikordi dan pihak-pihak lain.
Simbol Perlawanan Sipil
Para pendukung telah memperingatkan selama berbulan-bulan sebelum penangkapannya bahwa Mohammadi, 53 tahun, berisiko kembali dipenjara setelah ia memperoleh cuti tahanan pada Desember 2024 karena alasan medis.Meski cuti tersebut awalnya hanya dijadwalkan selama tiga minggu, masa bebasnya kemudian diperpanjang. Ia tetap berada di luar penjara bahkan selama perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni.
Selama masa itu, Mohammadi terus menjalankan aktivitas advokasinya melalui aksi protes publik dan penampilan di media internasional, termasuk aksi demonstrasi di depan Penjara Evin di Teheran, tempat ia sebelumnya ditahan.
Sebelumnya, Mohammadi menjalani hukuman 13 tahun sembilan bulan atas tuduhan bersekongkol melawan keamanan negara dan menyebarkan propaganda melawan pemerintah Iran. Ia juga secara terbuka mendukung protes nasional yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini pada 2022, yang memicu aksi pembangkangan terbuka perempuan Iran terhadap aturan wajib hijab.
Para pendukung menyebut Mohammadi mengalami beberapa serangan jantung selama masa penahanan sebelum menjalani operasi darurat pada 2022. Pada akhir 2024, pengacaranya mengungkapkan bahwa dokter menemukan lesi tulang yang sempat dikhawatirkan bersifat kanker, sebelum akhirnya diangkat.
“Dengan mempertimbangkan penyakit yang dideritanya, diharapkan ia dapat dibebaskan sementara dengan jaminan agar bisa menjalani perawatan,” tulis Nili.
Namun, otoritas Iran belakangan menunjukkan sikap yang semakin keras terhadap seluruh bentuk pembangkangan. Ketua Mahkamah Agung Iran Gholamhossein Mohseni-Ejei pada Minggu menyampaikan pernyataan yang mengisyaratkan hukuman berat bagi banyak pihak.
“Lihatlah beberapa individu yang dulu bersama revolusi,” katanya.
“Hari ini apa yang mereka katakan, apa yang mereka tulis, pernyataan yang mereka keluarkan, sungguh disayangkan dan mereka akan menghadapi konsekuensinya,” imbuhnya.
Nada Keras di Tengah Negosiasi Nuklir
Kabar vonis terhadap Mohammadi muncul ketika Iran berupaya bernegosiasi dengan Amerika Serikat terkait program nuklirnya guna menghindari ancaman serangan militer dari Presiden AS Donald Trump. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, berbicara di hadapan para diplomat dalam sebuah pertemuan di Teheran, menegaskan Iran akan tetap mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium.“Saya percaya rahasia kekuatan Republik Islam Iran terletak pada kemampuannya untuk berdiri melawan perundungan, dominasi, dan tekanan dari pihak lain,” kata Araghchi. “Mereka takut pada bom atom kami, padahal kami tidak mengejar bom atom. Bom atom kami adalah kekuatan untuk mengatakan tidak kepada kekuatan besar.”
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pembicaraan Iran–AS di Oman. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pertemuan itu sebagai “langkah ke depan,” namun Araghchi menegaskan posisi keras Teheran tetap tidak berubah.
Pezeshkian juga menulis di X bahwa dialog merupakan strategi Iran untuk penyelesaian damai. “Bangsa Iran selalu membalas rasa hormat dengan hormat, tetapi tidak mentoleransi bahasa kekuatan,” tulisnya.
Sementara itu, belum jelas kapan dan di mana putaran negosiasi berikutnya akan digelar, atau apakah perundingan lanjutan akan berlangsung. Trump, seusai pembicaraan tersebut, hanya mengatakan bahwa Iran tampaknya “sangat ingin membuat kesepakatan dan memang seharusnya demikian.”
Baca juga: Iran Eksekusi Delapan Narapidana, Ribuan Lainnya Menunggu Hukuman Mati