PBSI Bidik Olimpiade 2028 Lewat Regenerasi Pemain Muda

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Alwi Farhan. Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.

PBSI Bidik Olimpiade 2028 Lewat Regenerasi Pemain Muda

Khoerun Nadif Rahmat • 26 January 2026 02:01

Jakarta: Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menetapkan target ambisius pascagelaran Indonesia Masters 2026. Fokus utama federasi kini tertuju pada pematangan barisan pemain muda yang diproyeksikan menjadi tulang punggung Indonesia dalam misi berburu medali di Olimpiade Los Angeles 2028.

"Tahun ini, kita melihat dari semifinalisnya, dari para pemain yang masuk semifinalis, itu jumlahnya adalah dari pemain-pemain regenerasi muda. Di mana di tahun lalu mungkin belum diperhitungkan sama sekali, tahun ini kita melihat progresnya sudah terlihat lebih baik. Road to Olympic sudah kita buat progresnya. Di 2026 ini, kita target utamanya adalah untuk top elite-nya yang sudah prioritas kita," ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, Eng Hian, dikutip dari Media Indonesia, Minggu, 25 Januari 2026.
 


Eng Hian menegaskan bahwa pada akhir 2026, Indonesia harus memiliki fondasi kuat dalam peringkat dunia BWF. Sektor tunggal putra ditargetkan menempatkan tiga wakil di jajaran 15 besar, sementara ganda putra dibidik memiliki dua pasangan di posisi 10 besar dunia. 

Tak hanya itu, evaluasi ketat juga menyasar sektor ganda yang dinilai stagnan. Termasuk sinyal adanya perombakan pasangan jika prestasi tidak kunjung meningkat.

"Kalau memang sudah maksimal kita mencoba segala cara, tapi performa atlet ini tidak meningkat dan kita masih melihat potensi untuk bisa dikembangkan dengan pemain lain, tentunya itu akan menjadi solusi," tegas Eng Hian.


Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Nikolaus Joaquin (bawah kanan) dan Raymond Indra (bawah kiri) bereaksi usai kalah dari lawannya ganda putra Malaysia Goh Sze Fei dan Nur Izzuddin. Foto: ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN.

Meski menyambut hangat kemenangan Alwi Farhan di sektor tunggal putra, PBSI juga mewaspadai tantangan nonteknis seperti tekanan media sosial yang kerap membebani mentalitas atlet muda. Pihak federasi berharap publik dan netizen dapat memberikan iklim yang kondusif agar proses regenerasi ini tidak terganggu oleh tekanan negatif dari luar lapangan.

"Ini sangat membantu atlet untuk mengurangi tekanan negatif," kata Eng Hian.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)