Presiden Bulgaria Rumen Radev. (Anadolu Agency)
Presiden Bulgaria Mengundurkan Diri, Picu Spekulasi Bentuk Partai Baru
Willy Haryono • 20 January 2026 08:26
Sofia: Presiden Bulgaria Rumen Radev secara mengejutkan mengumumkan akan mengundurkan diri pada Selasa, 20 Januari 2026. Langkah ini memicu spekulasi luas bahwa ia tengah bersiap membentuk partai politik sendiri dan maju dalam pemilu parlemen yang akan digelar lebih cepat dari jadwal semula usai runtuhnya pemerintahan.
Dalam pidato khusus yang disiarkan televisi di hari Senin, Radev mengkritik tajam situasi politik domestik, menyebut adanya “model pemerintahan yang kejam” dan menuding oligarki sebagai penyebab meningkatnya kekecewaan publik.
Dikutip dari Radio Free Europe Radio Liberty, ia mengatakan banyak warga Bulgaria telah berhenti menggunakan hak pilih dan tidak lagi mempercayai media maupun sistem peradilan.
Runtuhnya koalisi pemerintahan terbaru mendorong Bulgaria menuju pemilu parlemen yang akan menjadi yang kedelapan dalam empat tahun terakhir, menegaskan periode panjang ketidakstabilan politik di negara tersebut.
“Kelas politik saat ini telah mengkhianati harapan rakyat Bulgaria,” kata Radev.
Ia menambahkan bahwa dua pertiga warga tidak lagi memilih dan menilai demokrasi membutuhkan “kontrak sosial baru” agar tidak jatuh ke tangan pihak-pihak korup, oportunis, dan ekstremis.
Meski tidak secara eksplisit mengonfirmasi rencana terjun ke politik kepartaian, Radev dalam beberapa bulan terakhir mengisyaratkan kemungkinan membentuk gerakan politik baru, dengan menyatakan adanya tuntutan publik yang semakin luas.
Bulgaria dilanda gelombang protes besar pada akhir tahun lalu, bermula dari penolakan terhadap rancangan anggaran 2026 dan berkembang menjadi demonstrasi menentang salah urus ekonomi serta kegagalan memberantas korupsi.
Tekanan tersebut berujung pada pengunduran diri pemerintah pada 11 Desember, beberapa hari sebelum parlemen dijadwalkan menggelar mosi tidak percaya.
Sepanjang masa jabatannya, Radev kerap memposisikan diri sebagai penentang praktik korupsi yang mengakar dan dikenal menyuarakan pandangan konservatif. Sejak dimulainya perang Rusia–Ukraina pada Februari 2022, sikapnya kerap dipandang simpatik terhadap Moskow dan selaras dengan sejumlah tokoh konservatif di Eropa.
Usai pengunduran diri Radev dari jabatan yang bersifat seremonial tersebut, Wakil Presiden Iliana Yotova diperkirakan akan menjalankan tugas sebagai kepala negara hingga masa jabatan presiden berakhir akhir tahun ini.
Baca juga: Muak Marak Korupsi, Demo Gen Z Tumbangkan Pemerintahan Bulgaria