Protes 'No King' yang terjadi di Amerika Serikat menentang kebijakan perang Donald Trump. Foto: The New York Times
Aksi No Kings Meluas di AS, Tekanan Politik ke Trump Meningkat
Fajar Nugraha • 31 March 2026 19:42
Washington: Gelombang aksi “No Kings” berlangsung di berbagai wilayah Amerika Serikat sejak Sabtu 28 Maret 2026 sebagai bentuk protes terhadap Presiden Donald Trump.
Aksi ini digelar di lebih dari 3.000 lokasi dan menjadi salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Berikut adalah sejumlah poin utama atau rangkuman penting dari aksi “No Kings” yang berlangsung secara nasional, dilansir dari media USA Today.
Jumlah Peserta Mencetak Rekor
Aksi ini diperkirakan diikuti sekitar 8 juta orang, menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Jumlah ini melampaui aksi sebelumnya dan hanya kalah dari peringatan Hari Bumi 1970.Partisipasi datang dari berbagai wilayah, termasuk daerah pinggiran dan pedesaan. Hal ini menunjukkan perluasan dukungan di luar kota besar.
Para demonstran memiliki kesamaan dalam menolak Trump dan mendukung demokrasi. Salah satu pesan yang muncul adalah “Hentikan Trump, Selamatkan Demokrasi.”
Namun, isu yang diangkat cukup beragam, mulai dari perang di Iran hingga biaya hidup dan kebijakan imigrasi. Beberapa juga menyuarakan dukungan terhadap Ukraina dan Palestina.
Tidak Sepenuhnya Pro-Demokrat
Meskipun menentang Trump, tidak semua peserta mendukung Partai Demokrat. Gerakan ini berkembang secara independen melalui jaringan aktivis dan organisasi masyarakat.Koalisi pendukung mencakup serikat pekerja, aktivis progresif, dan kelompok hak sipil. Mereka juga menarik pemilih independen yang kecewa terhadap kedua partai besar.
Aksi massa ini dinilai dapat berdampak pada pemilu paruh waktu 2026. Mobilisasi besar dapat meningkatkan partisipasi pemilih dan memperkuat dinamika politik.
Sejumlah kandidat dari Partai Demokrat juga terlihat menghadiri aksi ini. Hal tersebut menunjukkan potensi keterkaitan antara gerakan dan kontestasi politik.
Di sisi lain, demonstrasi besar juga berpotensi memicu reaksi dari kelompok konservatif. Sejumlah tokoh Partai Republik menyebut aksi ini sebagai gerakan radikal.
Meski demikian, sebagian besar aksi berlangsung damai dengan suasana yang relatif positif. Namun, perbedaan pandangan politik tetap menjadi tantangan ke depan.
(Keysa Qanita)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com