Perempuan Ini Buktikan Semangat Kartini di Balik Kemudi Suroboyo Bus

Eka Hardiyanti Suteja, satu-satunya sopir perempuan Suroboyo Bus. (Dokumentasi/ Humas Pemkot Surabaya)

Perempuan Ini Buktikan Semangat Kartini di Balik Kemudi Suroboyo Bus

Amaluddin • 21 April 2026 19:14

Surabaya: Saat sebagian besar warga Surabaya masih terlelap, roda kehidupan kota diam-diam sudah berputar. Salah satu penggeraknya adalah Eka Hardiyanti Suteja (35), satu-satunya sopir perempuan Suroboyo Bus yang setiap hari memastikan mobilitas warga tetap berjalan.

Eka mengawali karier sebagai sopir taksi, lalu mencoba peluang ketika dibuka rekrutmen sopir perempuan. “Saya coba, dan alhamdulillah diterima,” kata Eka di Surabaya, Selasa, 21 April 2026.

Eka memulai harinya sejak pukul 03.00 WIB. Ia berangkat sebelum pukul 04.00 WIB menuju titik operasional, lalu mulai mengemudi sekitar pukul 05.30 WIB, menyusuri jalanan kota dan mengantar penumpang menuju aktivitas masing-masing.
 


Bagi banyak orang, ini mungkin rutinitas biasa. Namun di balik itu, ada tanggung jawab besar menjaga ritme kota agar tetap hidup. Perjalanan Eka menjadi pengemudi bus tidak instan.

Tantangan langsung datang di awal. Mengemudi kendaraan besar membutuhkan adaptasi, baik dari sisi teknis maupun mental. Setelah melalui serangkaian tes dan masa pendampingan, ia akhirnya dipercaya mengemudi secara mandiri.

Kini, hampir enam tahun sejak bergabung pada 2020, Eka justru menemukan kenyamanan dalam profesinya. Lingkungan kerja yang suportif serta interaksi dengan penumpang membuatnya betah. 

“Rasanya seperti jalan-jalan, tapi dibayar,” ucapnya.


Eka Hardiyanti Suteja, satu-satunya sopir perempuan Suroboyo Bus. (Dokumentasi/ Humas Pemkot Surabaya)


Di balik kesibukannya, Eka tetap menjalankan peran sebagai ibu. Ia membagi waktu dengan disiplin, termasuk mengantar anak di sela rutinitas pagi. Baginya, keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan adalah bagian dari tanggung jawab yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Keberadaannya di balik kemudi sempat memunculkan keraguan. Namun seiring waktu, respons itu berubah menjadi apresiasi. 

Banyak penumpang yang kagum, bahkan memberikan dukungan secara langsung. "Sekarang justru banyak yang mendukung, ada juga yang tertarik ikut,” ujarnya.

Interaksi yang intens membuat hubungan dengan penumpang terasa lebih dekat. Sebagian bahkan menjadi teman, menghadirkan nuansa kekeluargaan di ruang transportasi publik.


Eka Hardiyanti Suteja, satu-satunya sopir perempuan Suroboyo Bus. (Dokumentasi/ Humas Pemkot Surabaya)


Di tengah masih terbatasnya jumlah sopir perempuan di sektor ini, Eka menjadi simbol keberanian menembus batas. Ia tidak hanya hadir sebagai pengecualian, tetapi juga membuka jalan bagi perempuan lain untuk mengambil peran di ruang publik.

“Semangat Kartini itu bukan hanya simbol. Tapi keberanian untuk mengambil peluang dan terus berkembang,” tegasnya.

Melalui momentum ini, Eka berharap semakin banyak perempuan berani melangkah ke berbagai sektor, termasuk transportasi. Ia juga mengajak perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Momentum Hari Kartini ini menghadirkan kisah yang tidak sekadar inspiratif, tetapi juga reflektif. Emansipasi perempuan hadir dalam kerja-kerja sunyi yang sering luput dari perhatian.

Kisah Eka menjadi pengingat sederhana namun kuat bahwa di balik kota yang terus bergerak, ada kerja-kerja sunyi yang dijalankan dengan dedikasi. Perempuan seperti Eka adalah bagian penting dari perjalanan tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)