Terguncang Hebat, Rumah Tahan Gempa Ciptaan BRIN di Manggarai Barat Terbukti Tetap Kokoh

Purwarupa rumah modular tahan gempa ciptaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang tidak ambruk usai diguncang gempa bumi bermagnitudo M 7,7 di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Terguncang Hebat, Rumah Tahan Gempa Ciptaan BRIN di Manggarai Barat Terbukti Tetap Kokoh

Whisnu Mardiansyah • 18 August 2026 19:26

Manggarai Barat: Tiga unit purwarupa rumah tahan gempa yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap berdiri setelah wilayah tersebut diguncang gempa bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 beserta sejumlah gempa susulan.

Ketiga rumah tersebut dibangun pada 2021–2022 sebagai bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa. Teknologi tersebut sebelumnya dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dilanjutkan BRIN setelah integrasi lembaga-lembaga riset.

Perekayasa BRIN Vian Marantha Haryanto mengatakan ketiga rumah dirancang menggunakan teknologi konstruksi tahan gempa untuk diterapkan di wilayah dengan tingkat risiko kegempaan tinggi, termasuk NTT.

"Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," kata Vian, seperti dilansir Antara, Selasa, 18 Agustus 2026.

Vian mengatakan hasil pemeriksaan lapangan tidak menemukan keretakan struktural pada bagian dinding, kolom, maupun fondasi ketiga rumah tersebut.
 


Kerusakan yang ditemukan hanya bersifat kosmetik. Salah satunya berupa sebagian keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel sandwich EPS dan pecah akibat guncangan.

Meski kondisi struktur bangunan berdasarkan pemantauan lapangan masih baik, BRIN tetap akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memperoleh validasi teknis melalui pengujian laboratorium.

Pengujian tersebut direncanakan menggunakan metode uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di Laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur. Metode pengujian skala laboratorium tersebut telah dipersiapkan dan direncanakan dilaksanakan pada 2026.

"Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," ujarnya menambahkan.

Purwarupa rumah tersebut menggunakan teknologi rubber bearing seismic untuk membantu meredam getaran akibat gempa. Teknologi itu merupakan hasil penelitian Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN dengan memanfaatkan karet alam atau polimer elastis sebagai bahan dasar.


Proses evakuasi pascagempa NTT. Foto: Dok. BNPB
 

Vian menjelaskan teknologi tersebut bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan bagian atas bangunan. Komponen tersebut membantu menahan gaya geser ketika terjadi guncangan akibat gempa sehingga dampak terhadap struktur bangunan dapat dikurangi.

"Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi," tutur Vian.

Selain menggunakan teknologi tahan gempa, purwarupa rumah BRIN tersebut dirancang dengan konsep modular. Model ini dinilai dapat menjadi salah satu pilihan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi hunian masyarakat di wilayah yang memiliki risiko gempa.

BRIN mendorong pengembangan model rumah tersebut agar dapat direplikasi secara lebih luas. Penerapannya tidak hanya diarahkan untuk wilayah NTT, tetapi juga kawasan lain di Indonesia yang memiliki risiko gempa.

Pengembangan dan penerapan teknologi tersebut diarahkan untuk memperkuat aspek keselamatan hunian masyarakat sekaligus mengurangi risiko kerusakan bangunan ketika terjadi gempa.

(Whisnu M)