Kerusakan akibat serangan Israel di Jalur Gaza. (Anadolu Agency)
Tiap 90 Menit, Satu Warga Gaza Tewas atau Terluka sejak Gencatan Senjata 2025
Willy Haryono • 10 October 2026 15:40
Gaza: Serangan Israel telah menewaskan atau melukai rata-rata satu warga Palestina di Gaza setiap 90 menit sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, menurut laporan organisasi bantuan kemanusiaan yang berbasis di Inggris, Islamic Relief.
Dalam laporan pada Kamis lalu, Islamic Relief menyebut sedikitnya 1.454 warga Palestina tewas dan lebih dari 5.000 lainnya terluka selama periode tersebut. Sebanyak 320 korban tewas merupakan anak-anak, atau hampir satu anak setiap hari.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.471 warga Palestina tewas dan 5.189 lainnya terluka sejak gencatan senjata. Angka tersebut mencakup empat korban tewas dan 28 orang terluka dalam 24 jam terakhir.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa sedikitnya 74.254 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023.
Pada Kamis, pasukan Israel dilaporkan menewaskan seorang warga Palestina di tenggara Deir el-Balah, Gaza tengah. Serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di Khan Younis bagian tengah juga melukai sejumlah orang, menurut kantor berita Palestina WAFA.
Di Tepi Barat yang diduduki, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun tertembak di kaki ketika pasukan Israel melakukan penggerebekan di Yamoun, sebelah barat Jenin, menurut Bulan Sabit Merah Palestina.
Islamic Relief mengatakan garis yang disebut Yellow Line, yang menandai wilayah di bawah kendali militer Israel, digunakan untuk mendorong warga Palestina keluar dari 65 persen wilayah Gaza.
"Akibatnya, hampir 2,1 juta penduduk Gaza semakin berdesakan di wilayah yang tersisa, yakni sekitar 35 persen dari total wilayah tersebut," kata organisasi itu, dikutip Al Jazeera pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Seorang pekerja bantuan Islamic Relief di Gaza, yang identitasnya dirahasiakan demi keselamatan, mengatakan kondisi di lapangan masih diwarnai ketakutan.
"Dalam kenyataannya, tidak ada gencatan senjata. Mereka menargetkan kamp-kamp pengungsian dan kawasan padat penduduk, sehingga ketakutan masih sangat terasa," ujarnya.
Layanan Kesehatan Terganggu
Islamic Relief juga mengatakan Israel masih menghalangi masuknya bahan untuk membangun tempat tinggal, bahan bakar, dan pasokan medis ke Gaza.Menurut organisasi tersebut, sekitar 82 persen bangunan di Gaza mengalami kerusakan atau hancur. Lebih dari separuh layanan kesehatan juga telah berhenti beroperasi.
Selain itu, lebih dari 20.000 pasien dengan kondisi serius disebut tidak memperoleh izin untuk meninggalkan Gaza guna menjalani perawatan medis. Islamic Relief mendesak para pemimpin dunia meningkatkan tekanan untuk melindungi warga sipil dan memastikan hukum internasional ditegakkan.
"Gencatan senjata yang hanya sebatas nama tidak boleh menjadi alasan bagi masyarakat internasional untuk tidak bertindak," kata organisasi tersebut. (Razaqa Hariz)
Baca juga: Tiga Tahun Genosida Gaza: Potret Kehancuran Palestina dalam Angka