Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: Dok. Istimewa.
AHY: Indonesia Harus jadi Middle Power yang Diperhitungkan Dunia
Fachri Audhia Hafiez • 14 October 2026 19:56
Cikarang: Indonesia dinilai tidak boleh hanya bergantung pada ukuran geografis dan jumlah penduduk untuk menjadi middle power. Bangsa Indonesia harus menjadi kekuatan dunia yang diperhitungkan.
"Indonesia tidak cukup menjadi middle power karena ukuran geografis atau jumlah penduduk. Kita harus menjadi kekuatan yang diperhitungkan karena kapasitas nasional, kualitas kepemimpinan, dan kontribusi konkret terhadap stabilitas serta perdamaian dunia," ujar Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berbicara dalam Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) di President University, Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, Senin, 13 Oktober 2026.
Baca Juga :
AHY menjelaskan, dinamika global saat ini ditandai oleh meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, perubahan pola aliansi, serta kemunculan kekuatan baru. Kondisi ini menuntut Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara lebih substantif, yaitu dengan memperluas ruang diplomasi tanpa mengorbankan independensi.
"Bebas aktif bukan berarti pasif, apalagi sekadar mengambil posisi netral. Indonesia harus mampu bekerja sama dengan berbagai kekuatan dunia, tetapi tetap memiliki kebebasan menentukan keputusan berdasarkan kepentingan nasional," tegas AHY.
Menurut AHY, status Indonesia sebagai negara besar berpenduduk padat dan kaya sumber daya harus dibarengi kemampuan memengaruhi agenda internasional. Untuk meraih posisi influential middle power, Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi, teknologi, pertahanan, diplomasi, serta kepemimpinan di kawasan ASEAN dan berbagai forum multilateral.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Selain itu, AHY menekankan peran penting Indonesia sebagai bridge builder yang dapat menjembatani kepentingan antara negara maju dan berkembang, kekuatan besar, serta kelompok Global South. Dalam forum tersebut, ia turut mengapresiasi AIHII dan mengharapkan kontribusi pemikiran strategis dari para akademisi demi memperkuat diplomasi nasional.
"Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia harus hadir sebagai jembatan dialog, pembangun kepercayaan, dan bagian dari solusi. Kita tidak boleh hanya mengikuti perubahan dunia, tetapi harus ikut membentuknya," tutur AHY.
Kegiatan yang mempertemukan akademisi dan praktisi hubungan internasional ini turut dihadiri oleh Rektor President University Handa Satyanugraha Abidin, Ketua Umum AIHII Agus Haryanto, serta sekitar 200 peserta yang terdiri atas guru besar, dosen, dan peneliti ilmu hubungan internasional dari 61 universitas di seluruh Indonesia.