Aktivitas Erupsi Gunung Ile Lewotolok di NTT Masih Tinggi

Erupsi Gunung Ile Lewotolok di Lembata. ANTARA/Ho-PPG Ile Lewotolok

Aktivitas Erupsi Gunung Ile Lewotolok di NTT Masih Tinggi

Lukman Diah Sari • 7 November 2026 11:55

Kupang: Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), melaporkan aktivitas erupsi gunung api tersebut masih tinggi dengan status Waspada. Pengamat Gunung Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian, menyampaikan hal tersebut berdasarkan laporan evaluasi aktivitas gunung pada periode 16-31 Oktober 2026.

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 31 Oktober 2026, aktivitas kegempaan dan erupsi masih tinggi," jelas laporan tersebut, mengutip Antara, Sabtu, 7 November 2026.

Stanislaus memaparkan, selama periode pengamatan terjadi 1.137 kali gempa erupsi, 187 kali gempa guguran, 1.632 kali gempa embusan, serta 53 kali gempa vulkanik dalam. Tercatat pula 58 kali tremor nonharmonik, tujuh kali tremor harmonik, 10 kali gempa tornillo, enam kali gempa vulkanik dangkal, 26 kali gempa tektonik lokal, dan 47 kali gempa tektonik jauh.

Secara visual, erupsi menghasilkan kolom abu setinggi 100 hingga 500 meter dari puncak berwarna putih hingga kelabu. Asap kawah juga teramati berwarna putih tipis hingga tebal dengan ketinggian mencapai 500 meter.

Aktivitas vulkanik ini kerap disertai suara gemuruh dan dentuman lemah hingga kuat. Petugas juga mengamati adanya sinar api di puncak serta lontaran material pijar yang masih jatuh di dalam area kawah.

Selain erupsi, guguran lava teramati meluncur hingga 700 meter ke arah tenggara dan 500 meter ke arah selatan. Belum ada perubahan signifikan pada jarak luncur aliran lava di kedua sektor tersebut selama periode evaluasi.

Aktivitas kegempaan terpantau masih berfluktuasi dan didominasi gempa erupsi. Peningkatan gempa vulkanik dalam mengindikasikan adanya proses peretakan batuan akibat suplai magma dari kedalaman menuju bagian tubuh gunung yang lebih dangkal.

Rumah warga dan tanaman pertanian warga terpapar abu vulkanik Gunung Ili Lewotolok di wilayah Kecamatan Ile Ape. (Dokumentasi/ Kepala BPBD Lembata)


Sementara itu, pengamatan deformasi menunjukkan pola fluktuatif antara pengempisan (deflasi) dan penggembungan (inflasi) tubuh gunung. Namun, dalam pemantauan jangka panjang, kecenderungan tubuh gunung masih mengalami inflasi.

Guna mengantisipasi potensi bahaya, masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 2 kilometer dari pusat aktivitas, serta 3 kilometer pada sektoral selatan dan tenggara. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas pada sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut gunung.

Warga diimbau mengenakan masker, melindungi mata dan kulit, serta menutup penampungan air bersih untuk menghindari paparan abu vulkanik. Selain itu, masyarakat di sekitar lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Ile Lewotolok diminta mewaspadai ancaman lahar, terutama saat musim hujan.

Pemerintah Kabupaten Lembata dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat diimbau terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

(Lukman Diah Sari)