Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto. Foto: BPMI Setpres
Arrmanatha Nasir, Menlu Jebolan Inggris yang Berkarier Hampir Tiga Dekade di Diplomasi RI
Fajar Nugraha • 1 October 2026 15:06
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto menunjuk Arrmanatha Christiawan Nasir sebagai Menteri Luar Negeri dalam perombakan Kabinet Merah Putih pada Kamis, 1 Oktober 2026, menggantikan Sugiono yang digeser ke posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.
Diplomat yang akrab disapa Tata itu sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri sejak Oktober 2024.
Mengawali Karier di Kemlu
Arrmanatha Christiawan Nasir lahir di Bangkok, Thailand, pada 30 Desember 1971. Ia menempuh pendidikan sarjana di University of Buckingham, Inggris, dengan bidang ekonomi.Tata kemudian meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Leicester dan magister hubungan internasional dari Universitas Indonesia.
Ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada 1997 dan kemudian menempati sejumlah posisi yang berkaitan dengan isu ekonomi, perdagangan, serta hubungan multilateral.
Pada penugasannya di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk PBB di Jenewa pada 2001–2005, Tata terlibat sebagai negosiator Indonesia dalam perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Setelah itu, pada 2005–2008, ia menjabat sebagai Deputy Director for Agriculture and Commodities di Direktorat Jenderal Urusan Multilateral.
Meniti Diplomasi Multilateral
Karier Tata kemudian berlanjut di PTRI New York. Pada 2008–2012, ia menangani isu ekonomi dan pembangunan di Komite II Majelis Umum PBB serta Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).Dalam periode tersebut, Tata juga terlibat dalam perundingan atas nama kelompok G77 dan Tiongkok dalam sejumlah resolusi PBB.
Pada 2010–2011, ia dipercaya menjadi penasihat Presiden Sidang Majelis Umum PBB ke-65 untuk isu ekonomi dan negara-negara kurang berkembang atau least developed countries.
Pengalaman tersebut menempatkan Tata dalam berbagai proses perundingan multilateral, khususnya yang berkaitan dengan ekonomi, pembangunan, dan kerja sama negara-negara berkembang.
Lima Tahun Menjadi Wajah Kemlu
Setelah melewati berbagai penugasan diplomatik, Tata dipercaya menjadi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri pada 2014 hingga 2019.Dalam posisi tersebut, Tata menjadi salah satu figur yang menyampaikan kebijakan dan sikap Indonesia terkait isu-isu hubungan luar negeri kepada publik dan media.
Setelah menyelesaikan tugas sebagai juru bicara, Tata kemudian ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Prancis, Andorra, Monako, sekaligus UNESCO pada 2019.
Ia menjalankan penugasan tersebut hingga 2021. Pada tahun yang sama, Pemerintah Prancis menganugerahkan gelar Commandeur de la Légion d'Honneur kepada Tata atas kontribusinya terhadap hubungan Indonesia-Prancis.
Dari Paris ke Markas PBB
Pada 2021, Tata kembali ke arena diplomasi multilateral setelah dipercaya menjadi Duta Besar sekaligus Wakil Tetap RI untuk PBB di New York dan International Seabed Authority.Penugasan tersebut berlangsung hingga 2024 dan kembali menempatkannya dalam berbagai agenda diplomasi multilateral Indonesia.
Pengalaman Tata di Jenewa, New York, Paris, hingga markas PBB menjadi bagian dari perjalanan kariernya sebelum kembali ke Jakarta untuk menduduki posisi di tingkat wakil menteri.
Mendampingi Diplomasi Prabowo
Pada 21 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto melantik Tata sebagai salah satu dari tiga Wakil Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Merah Putih. Ia menjabat bersama Muhammad Anis Matta dan Arif Havas Oegroseno.Selama menjadi Wamenlu, Tata tetap aktif dalam berbagai agenda diplomasi bilateral dan multilateral Indonesia.
Pada April 2026, Tata mewakili Indonesia dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa ke-25. Dalam forum tersebut, Indonesia mendorong penguatan kemitraan ASEAN-Uni Eropa di tengah berbagai tantangan global.
Pada Maret 2026, Tata juga melakukan kunjungan kerja ke Prancis untuk membahas penguatan kemitraan Indonesia-Prancis, stabilitas internasional, multilateralisme, serta reformasi tata kelola global.
Sementara pada Juli 2026, Tata tampil dalam sidang terbuka Dewan Keamanan PBB mengenai penyelesaian sengketa secara damai. Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan pentingnya pencegahan konflik dan peran organisasi kawasan dalam menjaga perdamaian.
Kini Memimpin Diplomasi Indonesia
Setelah hampir tiga dekade berkarier di lingkungan diplomasi Indonesia, Arrmanatha Christiawan Nasir kini dipercaya memimpin Kementerian Luar Negeri.Perjalanan kariernya mencakup berbagai sisi diplomasi, dari negosiasi perdagangan dan isu pembangunan hingga hubungan bilateral, komunikasi publik, serta perundingan multilateral di PBB.
Dari diplomat yang terlibat dalam perundingan WTO dan menangani isu ekonomi serta pembangunan di PBB, Tata kemudian menjadi juru bicara Kemlu, duta besar, Wakil Tetap RI untuk PBB, hingga Wakil Menteri Luar Negeri.
Kini, rangkaian pengalaman tersebut menjadi bagian dari rekam jejak Arrmanatha Christiawan Nasir saat memulai tugasnya sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.